/ Essai

Tentang Rekan Kerja yang Ideal

Tulisan ini sebenarnya saya tulis untuk internal newsletter MailTarget, dimana masing-masing dari kita di MailTarget mendapat bagian untuk sharing ke seluruh team melalui newsletter (email). Yang saya rasa cocok juga untuk saya share disini.

Beberapa bulan yang lalu saya ngobrol dengan seorang teman. Pendek cerita dia ini sedang nulis buku sejak awal tahun kemaren, dan dia komit untuk menulis satu bab setiap bulannya. Rencananya buku itu seharusnya akan kelar ahir tahun ini, dan mungkin kita bisa nantikan bersama. Dia cerita bahwa di salah satu bab di bukunya, akan membahas tentang lingkungan kerja, dan saya mendapat kehormatan untuk diinterview tentang materi bukunya tersebut.

Ada kira kira 10 atau 12 pertanyaan yang dilontarkan ke saya, salah satunya adala ini:

Mas Masas, apa yang Mas Masas sukai dari seorang karyawan/rekan kerja?

Hmmm. Pertanyaan menarik, dan sukses membuat saya berpikir ulang, sebenernya apa yaa? apakah skill, ketelitian, disiplin, kerja keras, penuh ide cemerlang, periang, menghormati orang lain, loyalitas? Well, tentu saja semua itu bagus dan saya pengen semua itu, cuma tidak ada manusia yang sempurna right? begitu pula jodoh, *ehh.

Jadi saya end-up dengan jawaban ini.

Pursuing Maturity

Atau bisa juga diartikan selalu berusaha menjadi dewasa. Menjadi dewasa artinya tahu diri, tahu kapan harus berterima kasih, kapan harus meminta maaf. Kapan harus bersabar dan kapan harus bersyukur. Kapan harus meminta dan kapan harus memberi.

Maka, kedewasaan selalu berkaitan dengan orang lain. Seseorang tidak dapat menjadi dewasa seorang diri. Seseorang akan selalu di-challenge setiap saat dengan masalah-masalah baru yang semakin berat, ini yang akan membuatnya lebih dewasa dan lebih baik baik lagi.

Saya pernah menulis artikel tentang kedewasaan disini.

Compromise First

Kata Gerd Leonhard di bukunya “Technology vs Humanity”, salah satu hal yang membedakan manusia dan mesin adalah compromise. Dan menurut saya ini sangat penting, compromise bukan berarti mengikuti apa saja yang diinginkan orang lain, tapi berusaha dealing dengan keadaan yang tidak sesuai dengan ekspektasi kita.

Karena kebenaran yang kita yakini, belum tentu benar buat orang lain, dan sebaliknya. Jadi kita memang kita harus selalu menchallenge kembali apa yang kita pelajari (unlearn what you have learned), yang tujuannya adalah membuat kita semakin yakin, karena konfirmasi dari orang lain, maupun menerima kebenaran baru dari orang lain. Kalo orang jawa bilang, jangan saklek saklek lah jadi orang. Jadi,

Quote “always be yourself”, is egoistic quote, and what sometimes killing you.

Always Share Values

Netflix, di culture deck-nya bilang,

The best workplase is a stunning colleagues

Artinya, sebenernya lingkungan kerja yang baik adalah dimana kita bisa selalu belajar dari teman-teman kita. Jadi sebagai teman yang baik, kitapun harus share value ke teman-teman kita. Yang tentu saja, membuat kita selalu belajar hal baru lagi dan lagi, supaya bisa di share lagi. Ini yang melatar-belakangi ada kamisan bapergrammer, ada digitalk, ada jadwal piket untuk internal newsletter, maupun sesi curhat setelah scrum.


Nah, Berikut merupakan apa yang menurut saya ideal untuk menjadi rekan yang baik di lingkungan kerja, meskipun sebenarnya ini juga bisa berlaku untuk pertemanan dalam arti lebih luas. Karna saya percaya bahwa semua orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tapi jika kita sama-sama memiliki keinginan untuk berkembang menjadi lebih baik (dewasa), bisa kompromi dengan keadaan yang berbeda dan berubah, dan selalu ada yg bisa dipelajari dari mereka, menurut saya ini akan menjadi hubungan yang baik untuk kita semua.