/ Essai

Tentang Menakar Tingkat Kedewasaan

Seringkali realita yang terjadi dalam hidup tidak sesuai dengan ekspektasi kita. Sering pula hal itu menimbulkan kekecewaan, tak jarang menghasilkan rasa jengkel dan kesal. Saya pun demikian. Banyak hal yang, sebenernya sepele, tapi cukup mampu untuk membuat saya kesal, jengkel, dan berujung pada terkurasnya efektitas waktu saya untuk menyelesaikan tanggung jawab, yang seharusnya bisa diselesaikan disaat otak dan waktu saya justru ter-eksploitasi untuk menghilangkan kekecewaan dan kejengkelan tersebut.

Beberapa orang biasanya mengekspresikan rasa kesal dan jengkelnya dengan marah-marah, berharap agar dengan demikian, setidaknya rasa kesal dan jengkelnya tersalurkan, atau mungkin akan reda jika orang yang dimarahi membantu meredakan rasa jengkel dan kesalnya dengan meminta maaf, dan kemudian membantu memberbaiki dan mengontrol situasi yang menyebabkan munculnya rasa jengkel dan kesal tersebut.

Beberapa orang lagi, mungkin tidak langsung menyalurkan kejengkelannya kepada orang lain yang menyebabkannya. Atau sering juga disebut dengan istilah "marah pada situasi". Biasanya sih karena mereka merasa tidak cukup punya alasan untuk membuat orang lain meminta maaf, tidak tau siapa yang harus bertanggung jawab atas terjadinya situasi tersebut, tidak punya cukup kekuatan dan otoritas untuk melakukannya, atau sekedar tidak tau saja apa yang harus dilakukan untuk menghilangkan kejengkelannya.

Nah, situasi ini bisa bermacam-macam, misalnya marahnya masyarakat terhadap pada kebijakan pemerintah yang tidak menguntungkan mereka, marahnya karyawan terhadap perubahan kondisi perusahaan yang mengancam status keamanan dan kenyamanannya, kemarahan atas acuhnya seseorang yang sangat ia cintai dan harapkan, kejengkelan seseorang programmer pada error-error yang terus saja bermunculan, atau tidak dapat ia selesaikan, kejengkelan seseorang terhadap teman atau keluarganya yang melakukan hal-hal yang menghawatirkan karena termakan isu hoax, dan lain sebagainya, yang saya rasa dari sebagian atau keseluruhan kita semua pernah mengalami situasi serupa.

Hanya saja, saya rasa jengkel, kesal dan munculnya amarah ini sangat, sangat subjektif dan privat. Yang artinya jika ada pihak yang jengkel, akan selalu ada pihak lain yang tidak jengkel maupun marah atas kondisi tersebut. Dan bagi mereka, yang setuju maupun merasa diuntungkan atas sebuah kondisi yang membuat orang lain marah cenderung untuk bilang, bahwa jengkel, kesal dan marah adalah sifat yang kekanak-kanakan. Sehingga kemudian, orang lain kalaupun sedang jengkel, mereka tidak marah-marah, agar setidaknya tidak dianggap "kekanak-kanakan".

Tertarik dengan hal itu, kemudian saya cari referensi di google mengenai "bersikap dewasa". Banyak sekali artikel yang membahas tentang itu, kurang lebih isinya adalah, 5 hal, 10 hal, 15 hal, ciri-ciri orang dewasa, sekian hal yang harus dilakukan agar menjadi dewasa, atau yang lebih spesifik seperti artikel tentang sekian hal yang tentang dewasa dalam berhubungan, keuangan, mendidik, berpolitik, dan lain sebagainya, yang tentu saja semuanya bagus.

Menurut saya sendiri setidaknya ada tiga hal yang bisa dijadikan takaran tingkat kedewasaan seseorang, yang membedakan apakah seseorang seharusnya diperlakukan sebagaimana orang dewasa atau sebaiknya masih diperlakukan seperti anak-anak.

Berharap selalu diberi

Pertama, saya mengambil perumpamaan pada seorang bayi. Ketika bayi lahir, dia hanya akan menangis, baru akan diam jika diberi susu. Kemudian menangis lagi, setelah ditimang-timang baru tersenyum. Kemudian menangis lagi, setelah diajak jalan-jalan baru tertawa, begitulah seterusnya.

Mereka memiliki keinginan, harapan, yang tidak terbatas, hanya saja belum bisa diungkapkannya dengan benar. Dengan menangis, merajuk, dan bertingkah tidak biasa, mereka berharap orang dewasa tau apa yang mereka inginkan dan menurutinya. Barulah seiring dengan tumbuh tingkat kedewasaanya, mereka baru bisa mengungkapkan apa yang dia inginkan mereka baru bisa mengungkapkan keinginannya dengan benar, yang artinya sesuai dengan realita dan etika.

Dari sini saya mengambil kesimpulan sederhana bahwa anak-anak memang berada pada level "berharap selalu diberi", diberi kasih sayang, diberi perhatian, diberi pendidikan dan pelajaran, diberi peran, serta dituruti keinginannya. Maka sebagai anak-anak, definisi dewasa adalah orang-orang yang minimal mampu mengetahui keinginannya, dan mampu mengabulkannya, tanpa kenal lelah. Sedang semakin dewasa seseorang, pada level ini, akan ditakar dari semakin banyak yang dapat ia berikan, baik itu mengabulkan permintaan, harapan, kasih sayang, perhatian, pelajaran, dan sebagainya.

Harus dimaklumi

Kedua, semua orang memang melakukan kesalahan, ini hukum alam. Hanya saja, anak-anak mungkin "harus dimaklumi" dalam segala hal. Karena mereka belum tau apa yang dilakukan salah, karena tidak ada yang mereka contoh untuk melakukannya, karena pekerjaan tersebut terlihat sangat sulit mereka lakukan, karena mereka belum terbiasa melakukan sesuatu yang baru diperintahkan, karena masih ada orang lain yang bisa melakukan pekerjaan untuk mereka. Dan akan selalu akan ada alasan lain agar mereka dimaklumi dan dimaafkan.

Karena "namanya juga masih anak-anak" tadi, maka orang dewasa harus selalu bisa berbesar hati dan maklum. Anak-anak selalu akan bisa menemukan alasan untuk dimaklumi atas segala sesuatu (excuse), sedang orang dewasa harus selalu punya alasan untuk melakukan melakukan sesuatu (reason). Maka sebagai anak-anak ekspektasi terhadap orang dewasa adalah orang yang mampu memaklumi setiap kesalahan yang dia perbuat, dan selalu bisa memberi mereka kesempatan untuk belajar memahami bagaimana dunia bekerja. Sedang semakin dewasa seseorang di tingkat ini, ditakar dari semakin besar rasa maklum yang bisa dia berikan tanpa harus dimaklumi.

Ditanggung

Ketiga, saya percaya semua orang ingin sesuatu yang baik, enak, nyaman, dan sebaliknya tidak ingin mendapat hal yang buruk, berbahaya, merepotkan. Terlebih untuk anak-anak, yang seperti kata orang-orang, dunia mereka selalu dipenuhi khayalan yang indah. Sayangnya, selalu akan ada "harga" yang harus dibayar. Yang menurut saya, ini tidak sederhana. Karena bukan hanya tentang bagaimana mendapatkannya, juga tentang mempertahankannya. Tentang resiko yang mungkin ditimbulkannya. Tentang etika dan kewajaran menikmatinya. Tentang orang lain yang mungkin akan iri karena tidak menikmatinya juga. Dan sebagainya, dan sebagainya, yang sederhananya saya simpulkan bahwa anak-anak membutuhkan orang yang menanggung semua itu.

Karena anak-anak biasanya belum bisa bertanggung jawab terhadap keinginan atau khayalannya sendiri. Maka mereka akan melemparnya kepada orang yang mungkin bersedia mengambil tanggung jawab atas keinginan atau khayalan tersebut. Maka bagi anak-anak, orang dewasa adalah orang yang mau dan mampu menanggung dirinya, beserta keinginan dan khayalannya. Yang artinya, di tingkat ini kedewasaan seseorang akan ditakar dari semakin banyak ia mau mengambil tanggung jawab, dan tentu saja menyelesaikannya.

...

Saya sadar bahwa sebenarnya tidak ada kedewasaan yang absolut, artinya kita bisa saja dewasa dalam satu hal, namun tidak dewasa dalam hal lain, dan menurut saya ini wajar. Hanya saja, kadang kita perlu menakar tingkat kedewasaan kita, agar kita sadar apakah kita sudah pantas diperlakukan seperti orang dewasa, diberikan akses yang hanya bisa diakses orang dewasa, beserta wewenang dan tanggung jawab yang semakin banyak.

Kadang kita juga perlu menakar tingkat kedewasaan orang lain, apakah mereka seharusnya diperlakukan seperti orang dewasa, beserta segala kepercayaan, wewenang dan tanggung jawabnya. Ataukah sebaiknya masih harus selalu diberi, disayangi, dimaklumi, dijaga, dan dihindarkan pada kemungkinan kemungkinan yang buruk, dengan scala yang lebih besar daripada yang diberikan kepada orang dewasa.

Saya rasa, semua orang ingin menjadi (atau setidaknya, dianggap) dewasa, dengan cara dan ukurannya masing-masing, yang membedakan di akhir hanyalah, "kapan kita bisa seberapa dewasa".