/ Essai

Tuhan Tolong Dengarkan,

hai Tuhan, apakah Kau dengar, jerit umat Mu, disela tebalnya debu.

hai Tuhan, adakah Kau murung, melihat beribu wajah berkabung, disisa gelegar galunggung

hai Tuhan, tamatkan saja. cerita pembantaian orang desa, yang jelas hidup tak manja

hai Tuhan, katanya Engkau maha bijaksana, tolong galunggung pindahkan ke kota, dimana tempat segala macam dosa

berat beban, Kau datangkan, pada mereka disana

cela apa, nista apa, hingga Engkau begitu murka

sunggung ku tak mengerti

hingar tangis, karna asap Mu. setiap detik duka berpacu,

semakin keras, jerit tak puas, dari mereka yang resah bertanya, adukan keputusanMu.

acap kali rintih memaki, setiap dukaku di ilahi,

jangan salahkan kecewa kami, bosan dalam irama takdirMu.

walau ku tak terganggu

bukankah Kau maha tahu, pengasih, penyayang,

namun mengapa selalu saja, itu hanya cerita

hai Tuhan, tolong buktikan

hai Tuhan, dengar rintihan

amuk lahar yang datang hanguskan bumi, tinggalkan arang penghuni desa pergi

gemuruh batu hancukan saudaraku, ulurkan tangan bantulah sesamamu.


diatas adalah lirik lagu "tolong dengar tuhan" nya bang iwan fals pasca meletusnya gunung galunggung tahun 1982-1983. betapa dalam lirik lagu itu menggambarkan bahwa kita masih seringkali menyalahkan kehendak Tuhan atas bencana yang terjadi pada kita. padahal itu sama sekali bukan salah Tuhan. itu adalah kebijaksanaan Tuhan, dan jangan berfikir seolah olah ada yang salah dengan kebijaksaan itu. tentu saja dengan sifat maha penyayangNya keputusan itu juga untuk kebaikan manusia. karna manusia dengan segala kesombongannya selalu saja beranggapan bahwa sekarang mereka sudah melakukan yang terbaik. tapi, terbaik itu sendiri dengan tendensi apa? apakah kalian para manusia merasa pantas untuk menggantikan Tuhan?

segala macam bencana, tentu memberikan dampak positif di waktu mendatang, dengan gempa kita jadi sadar akan rekonstrusi rumah anti gempa, dengan banjir, kita sadar kemana kita buang sampah, kita sadar, bahwa bahkan air pun ingin diberi ruang untuk mengalir ke samudra, atau meresap ke tanah. kita sudah memakan hak hak dari air tersebut. bahkan dengan bencana pula kita ada sampai sekarang, jangan2 tanpa bencana kita masih seorang monyet besar, ato dinosaurus, ato mahluk aneh yang di panggil dengan bahasa sejarah.

kita sering menganggap bahwa apa yang ada di bumi adalah hak kita. bukan. ini adalah hak Tuhan, secara penuh. ketika seseorang sudah merasa memiliki hak, saya rasa sikap bersyukur itu akan menjadi susah. kalo bersyukur saja susah, tentu untuk ikhlas akan lebih susah. dan memang karakteristik manusia sendiri yang hanya akan sadar setelah ada bencana. setelah ada musibah yang menimpa dirinya. kita mungkin tak akan ingat pada sodara sodara kita di lereng merapi sana kalau merapi aman aman saja. kita mungkin tak akan ingat pada sodara sodara di mentawai kalau tsunami tak menerpa. atau bahkan saudara saudara kita di wasior jika banjir bandang tak melanda. sehingga pemerintah akan tetap tidur nyenyak, pemerintah tak akan ingat kalau dia punya segudang aparat, punya segerbong tim ahli, punya sekarung roti yang dia simpan untuk menunggu basi. bencana lah yang mengingatkan itu semua.

ini buka bencana, ini iklan Tuhan. iklan yang memberi tahu kalau kita sudah dekat dengan Tuhan, sungguh indah jika kita diberi tahu bahwa kita akan kembali ke pangkuan Tuhan. sehingga kalaupun kita kembali, kembali dengan sikap menolong kita pada sesama, kembali dengan bersyukur atas kehidupan yang kita dapatkan selama ini.

ini bukan bencana, ini kuliah terbuka. kuliah tentang keikhlasan, kuliah tentang kepedulian kita pada sesama, kuliah tentang betapa kecil mahluk yang dianggap paling sempurna ini. dan Tuhan lah Rektornya.

ini bukan bencana, ini adalah anugrah, bayangkan betapa syukurnya orang orang di daerah tanpa gunung ketika terjadi gunung meletus, bayangkan betapa bersyukurnya orang-orang yang jauh dari laut ketika terjadi tsunami. betapa beruntung nya pemerintah yang di beri ruang untuk kampanye terbuka bahwa "ternyata" pemerintah masih "ada". atau betapa beruntung nya stasiun televisi yang tak perlu repot-repot memikirkan sinetron apa yang dia putar, drama apa yang bisa bikin orang nangis.

jangan sedih saudaraku. jangan mengeluh kawan kawan ku. kalian orang orang yang kuat. kalian orang orang yang beruntung. karna kalian lah orang-orang bersyukur. karna kalianlah mereka kaya, karna kalianlah mereka tetap dipercaya. akan kusampaikan deru teriakmu pada "mereka" orang orang kota itu :

"wahai orang kota, sudahkah kau bayar tiket pertunjukan ini?"


-maaf kawan aku temanmu yang tak berguna dan tinggal di kota-