/ Essai

Tentang Sikap dan Rasa Percaya

Menurut saya semua hubungan dimulai dari satu hal, yaitu rasa percaya. Ini juga kemudian menjadi penentu apakah sebuah hubungan akan bertambah erat atau terkikis hingga habis. Dapat dikatakan pula, semakin erat hubungan seseorang, bergantung pada seberapa percaya dia pada hubungan tersebut memberikan kebaikan bagi dirinya.

Kita mulai dari hubungan pertemanan, saat kita memulai pertemanan normalnya kita percaya bahwa teman kita ini baik, dan dengan berteman dengannya akan membawa kebaikan untuk kita. Tentu saja kebaikan yang saya maksud sangat subjektif dan relatif. Misal, seperti halnya teman belajar kelompok, teman membolos, teman nakal, pun demikian, semua diawali dari rasa percaya. Maka semakin dekat dengan teman, akan semakin hilang batasan untuk bercanda, mengutarakan sesuatu, meminta tolong merepotkannya untuk hal-hal remeh, dan lain sebagainya.

Hubungan dengan orang tua mungkin terlihat lebih sederhana, karena ada ikatan darah yang semestinya akan kekal sampai kapan pun. Orang tua, normalnya percaya penuh kepada kita, bahwa kita tidak akan durhaka kepada mereka, bahwa yang kita lakukan dalam hidup adalah untuk berbakti dan membuat mereka bahagia. Begitu juga dengan kita, normalnya kita percaya bahwa orang tua akan melindungi, dan mendukung kita untuk berkembang.

Dalam perjalanan, semakin kita membuat orang tua kecewa, maka kepercayaan penuh tersebut akan berkurang. Sehingga mendapat ijin dan dukungan melakukan sesuatupun jadi lebih susah. Dan ketika mulai ketidak percayaan dari masing-masing atau kedua belah pihak, maka hubungan akan renggang, bahkan tidak sedikit yang ahirnya memutus hubungan antar orang tua - anak.

Hal yang sama sepertinya memang terjadi pada semua hubungan, baik itu hubungan pertemanan, persaudaraan, percintaan, pernikahan, pekerjaan, bahkan hubungan dengan hewan, tumbuhan, alam, maupun Tuhan. Semuanya dimulai dari rasa percaya, menjadi semakin erat karena meningkatnya kepercayaan, menjadi renggang karena berkurangnya kepercayaan, dan jika ahirnya putus juga karena hilangnya rasa percaya.  

Karena pentingnya rasa percaya atas sebuah hubungan, maka perlu diikuti dengan sikap percaya. Pertama rasa percaya, perlu ditanamkan dalam hati, apa yang membuat kita percaya, seberapa besar rasa percaya itu, dan tujuan dari rasa percaya tersebut.

Ketika sudah dimantapkan dalam hati, rasa percaya perlu disampaikan, seberapa besar rasa percaya kita dan alasan dan tujuannya. Hal ini penting karena ketika kita menyampaikannya, ini akan menjadi bukti dari keputusan kita, dan kita perlu orang yang akan mengingatkan kita terhadap keputusan tersebut, baik itu berupa persetujuan, dukungan maupun peringatan dan penolakan.

Setelah itu, perlu pembuktian yang diimplementasi dalam setiap perbuatan kita. Pada hubungan yang vertikal manusia dengan Tuhan, anak dengan orang tua, dan sebagainya, sikap pembuktian ini dapat dibuktikan dengan sikap patuh. Sedang pada hubungan lain, setiap kita mengambil akan mengambil keputusan baru di masa depan, kita harus mempertimbngkan apakah keputusan tersebut tidak bertentangan dengan rasa percaya yang sudah kita diklarasikan sebelumnya.  Jika tidak sesuai, apakah ini dipengaruhi dengan terkikisnya rasa percaya yang sudah kita putuskan sebelumnya? jika demikian tentu perlu disampaikan dahulu alasan berkurangnya rasa percaya tersebut.  

Maka dari itu, saya setuju dengan bahwa komunikasi merupakan salah satu elemen penting untuk menjaga hubungan, karena komunikasi juga merupakan cara untuk menyampaikan seberapa besar rasa percaya kita, apakah bertambah, atau berkurang. Apakah perlu diperbaiki atau direlakan.

Karena selain kita sering lupa dengan apa yang sudah kita percaya, banyak kekecewaan muncul karena kita menganggap orang lain menyalahi rasa percaya kita, padahal kita tidak pernah menyampaikan seberapa besar rasa percaya kita sebelumnya. Sehingga sebenarnya seringkali kita mempercayai orang yang sebetulnya tidak ingin kita percayai sebesar itu. Mungkin karena kita tidak cukup percaya bahwa menyampaikan rasa kekecewaan ini adalah untuk menyelamatkan hubungan tersebut, kita akan terpaksa merelakan sebuah hubungan. Begitu juga sebaliknya.

Itulah mungkin kenapa agama memiliki agenda periodik untuk beribadah. Dan dalam setiap ibadah yang kita lakukan, ada deklarasi rasa percaya kita. Kembali lagi karena kita sering lupa terhadap apa yang sebelumnya kita percayai. Maka hal tersebut mungkin berlaku juga pada hubungan-hubungan yang lain, untuk menjaga hubungan, penting untuk menyampaikan seberapa besar rasa percaya kita.

Pertanyaan adalah, kapan terahir kita menyampaikan rasa percaya kita?