/ Essai

Tentang Merasa Menjadi Tuhan

Kemaren sempat ada obrolan dengan seseorang setelah sekian lama. Yang saya tau sih, dulu dia aktif di komunitas yang bantu anak-anak jalanan gitu. Cuma, dia bilang sekarang dia udah nyerah. Dari ceritanya, anak jalanan (yang dia bantu) ini menekankan bahwa mereka nggak mau dibantu masyarakat, mereka maunya pemerintah yang tegas buat pelihara mereka. Jadinya mereka ini sering demo lah, longmarch lah, dan lain-lain yang intinya menuntut itu. Ahirnya saya ya cuma bisa bilang, "iya sih, kita nggak bisa bantu orang yang nggak mau kita bantu, bisa-bisa kita merasa jadi Tuhan, hahaha"

Setelah bilang gitu, saya jadi inget sesuatu. Mungkin sekitar 2 atau 3 tahun yang lalu, sempat ada seseorang yang chat, dan tanya tentang kira-kira pekerjaan yang cocok buat dia. Setelah saya tanya-tanya, ternyata dia ini nggak kuliah, abis SMA dia cuma ngasongin kopi instan seduh yang hasilnya nggak seberapa.

Waktu itu, saya fikir, dia ini perlu kuliah dulu untuk memperbaiki kualitas kehidupannya, jadi saya bilang ke dia, "kamu kuliah dulu aja, kalo masalah biaya nggak usah dipikir lah, nanti coba tak obrolin deh sama sodaraku yang punya yayasan".

Dari tahun 2010 saya memang banyak bantu-bantu di yayasan milik sodara saya, abahluthficenter. Yayasan ini dibentuk salah satunya karena menurut kami (waktu itu), yayasan yatim piatu yang ada tidak tuntas dalam upaya meningkatkan kualitas hidup anak yatim, kebanyakan cuma mengawal mereka sampai jenjang SMA. Dan itu, menurut kami nggak cukup, kuliah sangat penting, jadi mereka ini harus kuliah. Karena itu, kami pengen fasilitasi dan kawal mereka. Kami akan kuliahkan mereka dimana aja, sediain asrama dan biaya hidup, ketika udah lulus dan pengen berwirausaha, akan kami usahakan modal untuk itu. Dengan demikian, kami berharap kualitas hidupnya memang benar-benar naik, sehingga kedepannya mungkin bisa membantu sodara yang kurang beruntung lainnya.

Singkat cerita, datanglah saya ke tempat sodara saya, dan cerita soal masalah tersebut. Sodara saya kira-kira bilang begini, "Njil, dalam transaksi itu ada yang namanya ijab, dan ada yang namanya kabul, dan itu dilakukan oleh pihak yang berbeda. Ketika dia dateng ke kamu, dia itu ijabnya minta pekerjaan, kamu nggak kabul. Terus kamu malah ijab ke dia suruh kuliah. Jadi harusnya kamu nunggu dia kabul. Kalau dia kabul, harusnya setelah itu dia akan ijab ke kamu minta dibantu soal kuliah, barulah kamu bisa kabul dan membantu dia soal itu. Kalo kamu yang ijab, trus kamu juga yang kabul atas nama dia, kamu mau jadi Tuhan?". Jawaban yang makjleb.

Ijab artinya meminta, menawarkan, sedangkan kabul artinya menyetujui atau mengabulkan. Umumnya seseorang yang kabul memiliki posisi tawar yang lebih tinggi. Misal, ketika saya yang mendaftar ke sebuah perusahaan, artinya perusahaan tersebut yang akan menutuskan untuk menerima saya atau tidak. Sebaliknya, ketika seseorang menghubungi saya agar bergabung dengan perusahaannya, sayalah yang memutuskan mau bergabung dengan perusahaan tersebut atau tidak.

Ketika kita bertanya ke orang lain, "ada yang bisa saya bantu?", kita mengharapkan jawaban "oo, iya, tolong ya?". Tapi sebenarnya kita pun harus siap dengan jawaban "nggak ada! ganggu aja!".

Rasa simpati dan keprihatinan atas kualitas hidup orang lain yang tidak lebih baik dari kita, akan membuat kita ingin membantu mereka. Cuma, kalaupun kita berfikir bisa mengingkatkan kualitas hidup seseorang, kita hanya bisa sebatas menawarkan bantuan, atau memberi saran (stimulus) dan pandangan tentang apa yang kita ketahui. Di akhir, tetap saja tidak dibenarkan untuk bilang, "tuu, kaan, udah saya bilang kamu harusnya gini, kamu sih nggak percaya".

Menjadi "kadang di atas - kadang di bawah" adalah keniscayaan sebagai manusia. Kita nggak mungkin nggak pernah membutuhkan siapapun, sebaliknya, keberadaan kita pun nggak mungkin nggak dibutuhkan oleh siapapun.

Jadi, ketika membantu, kita nggak perlu lah memikirkan sekenario aneh-aneh, bahwa nanti orang ini akan gini, harus gini, supaya gini, dan lain-lain. Itulah mungkin kenapa orang-orang tua kita mengajarkan kita untuk bilang "sama-sama" ketika orang lain berterima kasih. Mungkin supaya kita bahkan nggak boleh berharap atas ucapan terima kasih dari orang yang kita bantu.

Menolong orang lain memang kewajiban kita sebagai sesama manusia, saya rasa kita semua sepakat lah soal ini. Tapi, tau diri juga penting. Ketika memberi saran, konsekuensinya ya kita harus siap saran kita nggak digunakan, ketika mengajarkan sesuatu, kita harus siap untuk nggak dimengerti, ketika memohon sesuatu dengan memelas, kita harus siap untuk nggak dikabulkan, bahkan ditolak mentah-mentah.

Kita nggak bisa menolong orang yang nggak mau kita tolong, Atau lebih tepatnya, merasa lebih tau tentang apa yang mereka butuhkan. Sangat bisa jadi kok yang baik buat kita ternyata nggak cocok buat orang lain. Dalam kasus si anak tadi, saya berfikir yang dibutuhkannya adalah pendidikan, yaitu kuliah. Tapi bisa jadi kondisinya saat ini dia memang hanya perlu pekerjaan apa saja asal lebih baik dari apa yang dia bisa hasilkan sekarang.

Apa yang kami alami selama menjalankan yayasan tersebut, terus-menerus mengajari kami banyak hal. Latar belakang orang yang berbeda-beda, kebutuhan yang berbeda-beda, kepentingan yang berbeda-beda, serta kemampuan dan pengaruh yang berbeda-beda, memicu gejolak pemikiran untuk mengoreksi kembali, apakah yang kami lakukan sudah benar?

Strategi hanyalah pengejawentahan, bentuk praktis yang baru bisa dimainkan setelah niat dan tujuan tertata dengan baik. Maka secara substantif sebenarnya membuat kita harus memperbaiki niat dan tujuan kita dahulu dalam melakukan sesuatu. Berusaha mengikis kesombongan-kesombongan yang berujung kepada merasa menjadi Tuhan.

Merasa memiliki posisi tawar yang tinggi, dan berusaha menatapkan nasib orang lain ditangan kita tanpa mereka minta, bukankah hanya Tuhan yang berhak untuk itu?

Entahlah.