/ Essai

Tentang Menjadi Generalis atau Spesialis

Ada sebuah kalimat yang cukup terkenal dikalangan akademisi dan professional, yang berbunyi "jack of all trades, master of none". Mungkin temen-temen sudah sering mendengarnya, sebuah ungkapan yang secara umum dipahami sebagai anjuran untuk fokus pada satu bidang, daripada belajar banyak bidang sekaligus, dan berahir pada "tau banyak hal, tapi tidak memiliki satupun keahlian khusus".

Baik, menurut saya hal tersebut tidak sepenuhnya salah. Tentu saja memiliki keahlian di bidang tertentu sangat penting. Hanya pertanyaannya, apakah kemudian "tau banyak hal" jadi tidak bagus? Karna sebagai kalimat bermajas ironi, induk kalimat biasanya dibuat seolah menjadi pilihan yang buruk, sedang pilihan yang baik adalah kebalikan dari itu. Sehingga membuat kita berfikir bahwa tau banyak hal itu tidak penting, yang terpenting kita bisa menguasai satu bidang, yang kemudian bisa kita gunakan sebagai identitas kita.

Ketika kuliah dulu, saya sering mendapat pertanyaan dari saudara / tetangga di kampung, "kamu kulianya jurusan apa?", saya jawab "teknik informatika", "teknik informatika itu apa?", mungkin karena saya males menjelaskan secara detail, ya saya jawab aja, "komputer, komputer". "oo komputer toh", masalah selesai saat itu. Hanya saja pertanyaan berikutnya yang muncul adalah, "printer saya macet, bisa benerin nggak", atau "kamu kan anak komputer, ajarin bikin undangan kawinan dong". Jauh dari bidang yang saya tekuni saat itu yaitu programming.

Ternyata masalah seperti inipun dihadapi oleh teman teman seprofesi saya. Di kantor misal, sempat ada perbincangan tentang kebingungan mereka menjelaskan profesinya di lingkungan rumah. bilang kerja di komputer, dikira jualan komputer, bilang developer, dikira bikin perumahan, pas bilang programmer, eh ditanyain cara nge-hack akun facebook. Kemudian saya berfikir, sebenernya apakah perlu menjelaskan identitas secara spesifik, terutama pada mereka yang hanya tau bidang tersebut secara general?

Menurut saya, identitas, atau secara spesifik, titel, hanyalah tuntutan dari dunia industri. dimana ketika industri membutuhkan orang yang bisa membuat program, mereka akan cari programmer, ketika sudah ada pembagian tugas dan devisi di bagian programmer, mereka akan cari backend programmer, frontend programmer, android, programmer, ios programmer, desktop programmer, dan sebagainya. Ketika mereka menggunakan platform khusus mereka akan cari programmer yang spesifik pada platform tersebut, java programmer, php programmer, python programmer, nodejs programmer, dan sebagainya dan sebagainya. Sehingga kemudian lembaga pendidikanpun didesain supaya bisa memenuhi kebutuhan industri tersebut. Menggiring kita untuk menjadi spesialis, daripada generalis.

Di wikipedia, (yang saya baca ketika menulis ini), awalnya ungkapan "jack of all trades" sendiri diramaikan oleh Robert Greene pada 1592, di bookletnya Greene's Groats-Worth of Wit, yang me-refer pada William Shakespeare, seorang aktor yang juga seorang penulis naskah drama. Namun dalam penggunaannya sehari-hari sebenernya kalimat tersebut masih ambigu, dapat digunakan dalam konteks memuji atau menyindir. Dengan ditambahkannya "master of none" kemudian, maka rangkaian kalimat tersebut menjadi negatif. Di Amerika sendiri penggunaan kalimat tersebut mulai ramai pada tahun 1721, mereka menganggap orang yang tau banyak hal, generalis, biasanya hanya memiliki pengetahuan yang dangkal.

Padahal menurut saya, setiap orang tidak akan cukup menjadi spesialis atau generalis saja. Sebagai gambaran, gini, entry level di industri rata-rata memang dipersiapkan untuk spesialis. Ketika fresh graduate melamar pekerjaan di sebuah perusahaan, biasanya mereka akan dipersiapkan untuk job description yang spesifik. Tapi apakah itu saja cukup? menurut saya tidak. Terutama jika kita menginginkan peningkatan "level" di perusahaan. Maka kita harus expand diri kita, selain mendalami spesialisasi kita, kita juga harus bisa menguasai hal-hal yang lebih general, karena sebenarnya kita akan dipersiapkan untuk tanggung jawab yang lebih banyak. Sehingga semakin tinggi "level" di perusahaan, sebenarnya menuntut kita untuk menjadi lebih general, lebih banyak cakupan pengetahuan dibutuhkan, dan tanggung jawab terhadap orang-orang yang melakukan pekerjaan lebih spesifik.

Sama halnya dengan startup atau entrepreneur, saat memulai bisnis atau startup, kita dituntut untuk tau dan mengerjakan A sampai Z, dari product, sales, marketing, operations, leadership, relations, finance, recruitment, management, dan sebagainya. Jadi kalau kalian bertanya apa yang dikerjakan oleh seorang CEO atau startup founder, maka jawaban saya adalah, "semuanya". Kemudian seiring dengan semakin besarnya perusahaan, akan semakin banyak juga spesialis yang dibutuhkan untuk pekerjakan yang semakin spesifik.

Sebenarnya tak hanya spesialis yang harus expand untuk tau hal-hal yang lebih general, seorang generalis-pun harus expand untuk memperdalam hal-hal spesifik, sehingga dapat menyelesaikan masalah-masalah yang ada disana. Karena substansi dari setiap permasalahan, biasanya berada di ranah lain yang lebih spesifik. Dengan demikian, akan ada banyak titik yang bisa dihubungkan, dan semakin banyak orang yang bisa menerima manfaat dari solusi yang muncul atas permasalahan tersebut. Sama seperti yang startup maupun perusahaan besar lakukan, yaitu "solving specific problem with general impact".

Nah, dari beberapa hal yang saya omong-kosongkan di atas, sebenernya tidak masalah apakah kita seorang spesialis atau generalis. Ini bukan tentang mana yang lebih baik, atau mana yang merupakan indikator kesuksesan seseorang. Baik apakah saat ini kita merasa bahwa kita seorang spesialis, maupun kita merasa lebih generalis, akan selalu ada tempat bagi kita untuk berkarya, dan akan selalu ada peran yang bisa kita ambil. Karena semakin penting peran yang kita ambil sebenarnya adalah tentang seberapa banyak manfaat yang bisa kita berikan dari peran tersebut, dan semakin berharga karya kita adalah tentang seberapa besar dampak yang bisa dihasilkan dari karya tersebut.

Dengan demikian, yang terpenting bagi kita adalah selalu expand pengetahuan dan kemampuan kita, sehingga bisa memberikan lebih besar manfaat kepada lebih banyak orang. Karena baik generalis maupun spesialis sebenarya harus kita sinergikan dengan baik dalam diri kita, yang artinya menjadi orang yang tau banyak hal, sekaligus ahli dalam beberapa hal. Oleh karena itu saya lebih setuju dengan pendapat beberapa orang yang lain bahwa "being a jack of all trades, doesn't mean you're master of none".