/ Essai

Tentang Konsep "Level" dan Kenapa Saya Melanjutkan Pendidikan (Lagi).

menjelang kelulusan sma, saya ingat betul betapa perbincangan seputar perguruan tinggi, menjadi topik yang sangat populer. bahkan banyak teman teman yang lebih memikirkan tentang perguruan tinggi ketimbang tentang ujian kelulusan mereka. saya pun demikian. bagi saya (waktu itu) menjadi mahasiswa adalah hal yang awesome banget. kita tak perlu berangkat sekolah jam setengah 7 setiap hari, tak perlu memakai seragam, hanya mengambil pelajaran yang kita sukai, banyak hari libur, dan tentu saja cewek cewek di kampus jauh lebih enak dipandang, #eeh.

dulu, (ketika sma) saya seringkali kagum dengan gaya mahasiswa, karena kebetulan ikatan alumni di sekolah saya cukup baik, waktu itu, saya kadang jalan-jalan ke malang dan main ke tempat alumni disana. dan melihat mereka nongkrong, mendengar mereka yang menggunakan bahasa bahasa yang keren dan nggak begitu saya pahami, melihat cara mereka berorganisasi, saya hanya bisa kagum dan berfikir, "oke suatu saat nanti saya akan juga akan jadi mahasiswa keren seperti itu". dan hal itu membuat saya ingin secepatnya menjadi mahasiswa.

saya berfikir bahwa kelulusan sma adalah sebuah jalan keluar menuju kebebasan. jalan keluar dimana kita akan benar benar menemukan hidup baru. membuang rutinitas 12 tahun menggunakan seragam sekolah. membuang rutinitas untuk menunggu saat saat bel pulang sekolah berbunyi, dan segala aktifitas yang (pada saat itu) menurut saya sangat membosankan. dan yang paling extrim lagi, rambut gondrong mahasiswa adalah simbol kebebasan  dunia sekolah tersebut. :D

namun kalo saya berfikir ulang, kekaguman tersebut tidak hanya terjadi saat menjelang berubahnya status saya dari siswa menjadi mahasiswa. ketika smp pun saya kagum pada siswa sma, seragam putih abu abu terkesan dibumbui masa masa remaja yang indah. di sma, pergaulan kita jadi semakin terbuka, pensi yang keren, osis yang lebih keren, ekskul yang lebih keren, dan tentunya hal hal indah yang berhubungan dengan cinta masa sma. hal hal seperti itu semua terlitah keren banget. dan sebagai siswa smp saya ingin secepatnya menjadi masuk sma. bagitupun ketika berada di sekolah dasar. ketika menjadi siswa smp saya akan tau apa itu osis, apa itu ekskul, dan yang paling penting adalah uang jajan yang lebih banyak dari sekolah dasar. :)

kekaguman kekaguman tersebut menimbulkan rasa penasaran pada diri kita. dan secara normal kita ingin mengalami hal kita kagumi tersebut. jadi, sangat wajar kalau siswa smp ingin mengalami masa sma, dan siswa sma ingin mengalami masa kuliah karena dorongan rasa penasaran dan kekaguman mereka. dan tingkat kekaguman itulah yang menunjukkan "level" seseorang.

ketika kita kagum dengan seragam putih abu-abu artinya level kita masih setara dengan anak smp, kalo kagum dengan rambut gondrong mahasiswa, artinya level kita setara dengan anak sma, kalo kita masih kagum dengan wisuda artinya level kita masih mahasiswa. kalo kita kagum dengan pegawai artinya level kita pengangguran, kalo kita kagum dengan pengusaha, berarti level kita dibawah pengusaha.

kekaguman kita akan sesuatu, menunjukkan kita belum bisa mencapainya. dan menunjukkan bahwa kita masih setingkat dibawahnya. jadi apakah kagum itu nggak bagus? tentu bukan itu maksud saya, kagum itu bagus, tapi bukan untuk menganggap bahwa itu takdir final kita, sehingga kita akan kagum selamanya, tapi lebih pada menyadari posisi kita. kata Nabi, kalo kita menempatkan sesuatu di tempat yang salah, tunggulah kehancurannya. dengan memahami posisi kita, kita akan tau dimana kita menempatkan sesuatu dan apa yang harus kita lakukan dengannya.

kekaguman sendiri seharusnya di-manage dengan baik. kalo object yang kita kagumi salah, tentu arah tujuan hidup kita pun akan menjadi salah, dan ahirnya level kita memiliki ukuran yang salah. nah, kalo kita telah mencapai suatu level tententu, maka kekaguman akan hilang. ketika secara misterius ada kekaguman baru muncul. artinya masih ada level yang belum kita capai.

karena tak bisa kita pungkiri, dunia ini berputar dengan sangat memperhatikan level. katakan ada seribu orang buruh demo didepan istana presiden, mereka panjang lebar dari pagi sampai sore bahkan ada yang mogok makan sampai masuk rumah sakit untuk meminta sesuatu kepada presiden. kalo itu nggak dianggep sama presiden paling dalam beberapa hari sudah tidak ada yang membicarakan. dan mari kita bandingin dengan misal, presiden amerika menghubungi presiden lewat duta besar dan meminta sesuatu. kalo tidak langsung ditanggapi, sampai beberapa tahun pun masih akan di bahas, bahkan ketika presiden sudah berganti beberapa kali. itulah level, siapa bicara dengan siapa.

lalu bagaimana dengan cara mendaki level? agama kita bilang bahwa, Tuhan akan mengangkat derajat orang yang berilmu dan beramal baik. artinya, tempuhlah pendidikan yang tinggi lalu lakukan hal baik. karena hal baik yang dilakukan oleh orang berpendidikan akan memiliki nilai lebih daripada tidak. dan setidaknya jalur pendidikan adalah jalur paling diakui sebagian besar orang di dunia. dan bentuk kongkrit dari tercapainya sebuah tingkat pendidikan adalah ijasah. jadi, ada pula jalan pintas seperti membeli ijasah dan sebagainya, meskipun saya tidak setuju dengan hal hal semacam itu.

ketika saya telah mencapai tingkat tertentu, saya akan berfikir, "ah, just like that", jadi ketika saya selese sma, dan kemudian bertemu anak sma, saya bisa berfikir "ah, masih sma" dan ketika saya selese kuliah dan bertemu mahasiswa saya bisa berfikir, "ah, masih mahasiswa" dan ketika ada acara wisuda sarjana saya bisa berfikir "ah, cuman wisuda". dan alasan saya rela untuk menempuh pendidikan (lagi) ketika bnayak orang bilang "nggak bosen to sekolah terus?" saya akan jawab, "ngen iso ngece mahasiswa s2"  dan berfikir "ah, cuman s2". :D

ketika lulus sma, guru saya bilang, "banyak orang berfikir lulus adalah suatu yang puncak dari prestasi belajar mereka, padahal lulus itu adalah sebuah awal untuk menunjukkan siapa dia sebenernya". dari sini saya berfikir bahwa tidak ada yang namanya puncak, yang ada hanya level, dan ketika kita menyelesaikan suatu level, akan kita gunakan hasil itu untuk mencapai level baru dan menghilangkan kekaguman kita akan sesuatu.

almarhum kakek saya pernah berpesan, "biasakanlah, melakukan hal luar biasa, sehingga hal luar biasa itu (kau anggap) biasa biasa saja". saya rasa pesan almarhum kakek saya itu juga erat kaitannya dengan apa yang kita bicarakan diatas. terkesan agak sombong memang, cuman sombong juga penting untuk memotivasi.

semoga kita bukan termasuk orang yang banyak terkagum kagum pada sesuatu, bahasa jawanya gumunan. bukan karena kita tidak memiliki passion disitu, tapi karna kita telah menyelesaikan level tersebut.

salam.