/ Essai

Tentang Keputusan, Pertimbangan, dan Pilihan Sulit

Singkat cerita, malam ini saya merasa harus menuliskan sesuatu. Padahal besok pagi hari senin, saya harus masuk ke kantor lebih pagi. Seharusnya saya istirahat lebih awal malam ini. Jadi perasaan harus menulis ini menjadi pilihan yang sulit untuk saya. Saya rasa, dalam hidup, kita selalu dipenuhi pilihan-pilihan sulit. Yang receh, seperti ini, atau yang besar. Atau mungkin akan lebih tepat jika disebut "jarang dialami" (oleh kebanyakan orang).

Saya percaya, manusia memang memiliki kontrak dengan Tuhan untuk selalu mendapat masalah dalam hidup. Ada masalah yang sering, dan ada yang sangat jarang. Dan di semua itu, Tuhan memberikan pilihan-pilihan. Yang mudah, dan yang sulit. Misalnya, saat jam makan siang, kita lapar, maka kita akan dihadapkan pada pilihan-pilihan. Apakah kita makan di warung A atau warung B. Apakah kita sholat dulu, atau makan dulu. Apakah kita harus meeting dulu, atau makan dulu. Apakah kita menyelesaikan pekerjaan kita dulu, atau makan dulu. Apakah kita makan yang kita sukai, apakah menjaga diet. Apakah perlu menambah lauk yang enak ataukah berhemat, dan lain sebagainya.

Yang dari permasalah receh tersebut saja, banyak pilihan yang dapat kita ambil. Apalagi untuk keputusan yang seharusnya sangat jarang dilakukan, memutuskan untuk resign dari perusahaan, memutuskan untuk ganti profesi, menutuskan untuk berinvestasi, sampai memutuskan untuk menikahi seseorang, atau mungkin, meninggalkan pasangan.

Normalnya ketika kita dihadapkan pada pilihan tersebut, kita akan memilih pilihan yang lebih mudah, karna itu akan menghemat waktu dan tenaga kita untuk terus memkirkannya. Sebagai contoh, kalau kita lapar, ya makan, kenapa harus ditunda sampai sore? Kalau bisa makan yang enak banget, kenapa harus makan yang tidak kita sukai? Kalau bisa bangun siang, kenapa harus bangun pagi? Kalau ditawari perusahaan yang gajinya lebih besar, kenapa harus bertahan di perusahaan itu? Kalau masih bisa menyembunyikan kesalahan, kenapa harus jujur dan membayarnya? Kalau ada pasangan yang lebih baik, kenapa harus bertahan dengan pasangan yang sekarang? dan lain sebagainya.

Apakah salah? Menurut saya tidak semuanya. Menurut saya, ada beberapa hal yang dapat dijadikan pertimbangan yang dasar ketika kita memutuskan untuk melakukan sesuatu, atau tidak melakukan sesuatu.

Kewajiban

Semua peran yang kita ambil dalam hidup kita selalu menyertakan kewajiban-kewajiban. Peran kita sebagai orang beragama, mengharuskan kita mengikuti pertintah Tuhan, dan menjauhi laranganNya. Peran kita sebagai anak mengharuskan kita patuh pada orang tua. Peran kita sebagai warga negara mengharuskan kita patuh pada hukum. Peran kita sebagai karyawan adalah mematuhi peraturan perusahahaan, dan lain sebagainya. Ini harus selalu kita dahulukan dan menjadi pertimbangan utama untuk membuat keputusan.

Jaman SMA dulu saya pernah belajar Qowaidul Fighiyah, ada satu kaidah yang kalau tidak salah bunyinya begini. "Sesuatu yang tidak wajib, tidak dapat menggantikan sesuatu yang wajib". Dari sini saja, banyak keputusan yang akan terkena dampaknya. Misal, kita diajak nongkrong ketika ada deadline pekerjaan yang bersamaan. Apakah bisa kita terima? Atau kita diajak nongkrong ketika disuruh jaga rumah oleh orang tua. Apakah kita bisa terima? Saya rasa jawaban untuk ini sudah jelas.

Lalu bagaimana dengan kewajiban dan kewajiban yang lain? Maka pilih yang tanggung jawab kita lebih besar. Ini sudah pernah saya bahas di sini.

Janji, Komitmen

Kata pepatah, janji adalah hutang, dan harus dibayar, berikut bunganya, mungkin. Lebih lengkap lagi, dapat dibaca juga di sini. Yang mau saya bahas adalah, karena janji adalah hutang dan harus dibayar, maka sebelum membuat janji, kita harus memperhatikan peran dan kewajiban kita dulu, apakah bertentangan dengan itu atau tidak. Jika iya, jangan buat janji tersebut. Karena jika kita membuatnya, maka kita akan bayar janji tersebut, kemudian bayar kesalahan karna meninggalkan kewajiban. Tentu saya beserta bunganya.

Menurut saya, komitmenpun merupakan janji, biasanya kita lakukan kepada diri sendiri. Maka perlu dipertimbangkan juga ketika membuat janji baru, sudah bertentangan dengan janji yang lain apa tidak, atau bertentangan dengan komitmen yang sudah kita buat sebelumnya atau tidak.

Jika kita sudah janji setia pada pasangan kita, ya seharusnya jangan janji sama orang lain lagi. Jika kita membuat komitmen untuk diet, ya keputusan kita untuk "makan apa" akan terpengaruh dengan itu. Jika kita sudah tanda tangan kontrak untuk sesuatu, ya harus kita ikuti sampai ahir. Dan lain sebagainya. Meskipun pasti akan ada hal-hal tidak enak yang terjadi ketika kita menjalankannya. Yang sering kali tidak pernah kita pikirkan saat membuat komitmen, atau janji tersebut.

Kebaikan

Jika sudah tidak ada masalah dengan kewajiban, sudah tidak ada masalah dengan janji maupun komitmen, maka pertimbangan terahir adalah kebaikan dari pilihan atau keputusan tersebut. Ini yang paling sulit dan tricky, karenanya harus diletakkan di akhir setelah kewajiban, janji, mapun komitmen. Karena kebaikan yang benar adalah kebaikan untuk semua orang, dan untuk waktu yang lama. Bukan kebaikan untuk diri sendiri, atau golongan kita sendiri. Bukan juga kebaikan sesaat yang di masa depan sebenarnya akan jadi boomerang.

Ini yang kebanyakan orang menjadikannya sebagai excuse. Dalih seperti "Saya berbohong untuk kebaikan" atau "Saya melakukan ini untuk kebaikan" seharusnya perlu dipertanyakan lagi, kebaikan siapa? kebaikan kamu? supaya kamu ngga dimarahi aja, dihukum, atau dibilang ngga becus? apakah tidak ada pilihan yang lebih baik?

Karena jika ada pilihan yang lebih baik untuk kedepan dan untuk lebih banyak orang, seharusnya kita memilih pilihan itu, meskipun itu merupakan pilihan yang sulit, seperti kita harus  menjelaskan keputusan tersebut dulu, harus dimarahi dulu, komunikasi yang lebih lama dulu, dan lain sebagainya.  Dan pilihan yang lebih baik ini akan selalu ada, meskipun biasanya menjadi pilihan yang lebih sulit.  

Pilihan sulit memang perlu effort lebih, perlu perjuangan untuk melakukannya. Ya memang sulit. Sayangnya justru pilihan-pilihan seperti itulah yang biasanya merupakan pilihan yang benar. Dan seringkali kita malas untuk melakukannya, takut untuk berjuang diawal, dan seringkali membuat kita menyerah, atau lari, menghindari pilihan tersebut. Berharap kesalahan kita dimaklumi dan dilupakan.

Pilihan sulit  juga seringkali membuat kita berdalih bahwa "tidak ada pilihan lain". Menurut saya ini berbahaya sekali. Karena seperti yang saya sampaikan di atas, Tuhan membuat pilihan atas segala sesuatu. Merasa tidak ada pilihan lain membuat kita tidak berkembang, melakukan kesalahan yang sama terus menerus, dan lebih lagi, membuat kita jauh dari Tuhan. Merasa bahwa Tuhan tidak cukup memberi pilihan yang mudah. Maka banyak orang memutuskan bunuh diri karena alasan ini, "tidak ada pilihan lain".

Sulit memang, sayapun sering kali membuat kesalahan, tapi kesalahan sayapun harus dibayar, dengan mengakuinya, dan memperbaikinya, ini juga pilihan sulit, tapi tetap harus saya pilih dan lakukan. Mungkin itulah cara Tuhan membuat kita berkembang.

Semoga kita diberi kekuatan untuk mengambil pilihan-pilihan sulit itu.