/ Essai

Tentang harapan, dan kekecewaan

Saya yakin hampir semua orang pernah kecewa, saya pun demikian. Banyak kekecewaan yang terjadi dalam hidup saya. Meskipun, mungkin lebih banyak lagi kekecewaan pada orang lain yang terjadi karena saya. Besar atau kecil. Mudah diatasi atau membuat terpuruk. Kemudian yang menjadi pertanyaan saya adalah, kenapa kita kecewa?

Menurut wikipedia, kecewa memiliki arti tidak puas, tidak senang, atau berkecil hati. KBBI (Kamus besar bahasa indonesia )-pun memuat arti yang mirip, dengan penambahan penjelasan, bahwa hal itu dikarenakan tidak terkabulnya harapan atau keinginan seseorang. Saya pernah mendengar pesan serupa dari seseorang "jangan berharap kalau kamu tidak ingin kecewa". Jadi apakah sebaiknya kita tidak usah memiliki harapan saja, supaya kita tidak kecewa? Karena kekecewaan memang dapat terjadi selama kita memiliki harapan, kan?

Disisi lain, saya yakin bahwa harapanlah yang merupakan alasan seseorang melakukan sesuatu dalam hidupnya. Harapan untuk bahagia. Kita merawat sesuatu dengan harapan dia bisa tumbuh, dan akan memberi kita kebahagiaan. Kita berjuang tetap hidup karena kita memiliki harapan dapat tetap hidup, dan ada kebahagiaan disana. Kalaupun kita melakukan sesuatu untuk orang lain, saya hampir yakin bahwa sebenarnya kita berharap ada kebahagian yang kembali kepada kita.

Karena itu pula, seringkali seseorang memutuskan untuk tidak melakukan sesuatu karena tidak memiliki harapan kalau dia bisa melakukannya. Bahkan memutuskan mengakhiri hidup karena tidak ada harapan untuk hidup, atau berbahagia atas hidupnya. Jika memiliki harapan memang sepenting itu, bagaimana agar tidak berakhir membuat kita kecewa, kemudian terpuruk karenanya, dan menghilangkan harapan-harapan yang lain?

Mungkin beberapa orang akan bilang, "itu karena kamu terlalu berharap saja". Jadi seperti apa sih hal yang bisa dikategorikan sebagai "terlalu berharap"?

Menurut saya, terlalu berharap artinya kita menggangtungkan sebagian besar kebahagiaan kita pada perilaku orang lain. Sebagai contoh, kita memberi karena berharap penerimaan, kemudian kita kecewa jika ditolak. Kita memberi karena berharap ucapan terima kasih, maka kita akan kecewa jika dia tidak berterima kasih. Kita berbuat baik kepada orang lain, karena berharap dia akan berbuat baik ke kita juga, dan kita akan kecewa jika dia tidak berbuat baik kepada kita. Dan lain sebagainya, dimana semakin besar harapan atas apa yang kita lakukan, akan menimbulkan kekecewaan yang semakin besar juga jika hal tersebut tidak tidak terjadi.

Hal serupa pernah disampaikan oleh saudara saya, dia bilang, "Kalau kamu berharap pada manusia, kamu harus siap-siap untuk kecewa, karna itu pasti terjadi". Mungkin akan terdengar klise karena kalimat selanjutnya adalah, "Seharusnya kamu berharap hanya pada Tuhan". Tapi setelah beberapa waktu, saya sadar, memang begitulah seharusnya.

Karena secara normal sebenarnya kita berharap atas sesuatu yang kita ketahui. Sebagai contoh, kebaikan pasti akan dibalas kebaikan, mencintai akan dicintai, orang yang kesulitan mengharapkan pertolongan, memberi akan membuat orang lain senang, dan lain sebagainya. Padahal sebenarnya kita tidak bisa benar-benar tahu apa yang yang ada di dalam hati manusia. Tidak akan pernah. Hanya berpegang pada pengetahuan, sedang banyak hal yang tidak benar-benar bisa kita ketahui, sebenarnya yang membuat kita kecewa.

Karena itulah memang kita seharusnya menaruh harapan hanya kepada Tuhan. Kebaikan kita kepada orang lain, adalah karena Tuhan. Perjuangan yang kita lakukan kepada orang lain, karena Tuhan. Bahkan cinta kita kepada pasangan kita, kita tidak akan benar benar tau apa yang ada dalam hatinya. Kita hanya perlu untuk percaya, bahwa Tuhan lah yang akan membawa kebahagiaan itu, entah dari orang yang tersebut atau dari yang lain.

Menurut saya, harapan yang seperti itulah yang disebut iman (faith). Harapan yang tidak akan membuat kita kecewa. Karena jika kita kecewa, artinya kita belum benar-benar memiliki faith. Dan mungkin, yang orang-orang bilang sebagai ikhlas, bisa dilakukan dengan cara ini.

Meskipun sejujurnya sayapun masih orang yang sering kecewa jika tidak mendapat ucapan terima kasih, pujian, penghargaan, atau cinta, yang minimal setimpal dengan apa yang saya berikan. Maka, jika saya adalah orang yang mendapat kebaikan-kebaikan tersebut, saya akan berusaha menganggap semua itu adalah hutang, yang jika saya tidak membayarnya, taking for granted, akan membuat orang lain kecewa. Mungkin yang seperti ini memang cara Tuhan menguji seberapa kita beriman, iklas, dan bersyukur. Atau lebih mudah, bisa juga diartikan dengan "tau diri". Hal yang menurut saya menjadi kunci kebahagian kehidupan manusia. Mungkin.

Jadi sederhananya adalah, sudahkan kita cukup tau diri?