/ Essai

Tentang Bargaining Position

Beberapa waktu lalu, sempat terjadi perbincangan menarik dengan seorang rekan kantor tentang komunitasnya dulu, dia cerita kalau ada anggota komunitasnya curhat ke dia tentang susahnya ngajak orang untuk kerja bareng, kalau ada acara cuma 2-3 orang saja yang beneran kerja. Jadi, diapun merasa simpati dan prihatin terhadap itu.

Kalau saya ambil kesimpulan, problemnya adalah, bagaimana supaya dalam komunitas semua anggota memiliki semangat untuk mendukung setiap kegiatan di komunitas tersebut secara maksimal?

Sebenernya pertanyaan seperti ini sempat datang ke saya juga, mencurhatkan hal yang sama. saya jawab secara praktis kira-kira begini, "yaudah, kalau setiap kamu bikin acara yang kerja cuma 3 orang, sekalian aja panitia-nya dibikin cuma 3 orang aja, berarti harusnya bisa, dan nggak masalah kan?".

Menurut saya, itu cuma masalah bargaining position, soal nilai tawar. Siapa membutuhkan siapa. apakah komunitas yang membutuhkan anggota, atau anggota yang membutuhkan komunitas? apakah karyawan yang membutuhkan perusahaan atau perusahaan yang membutuhkan karyawan? apakah kamu yang pengen doi jadi pacar kamu duluan atau doi yang pengen jadi pacar kamu duluan?

Idealnya memang sama-sama suka, sama-sama ingin, sama-sama butuh. Cuma, sesuatu yang ideal kan tidak terjadi dengan sendirinya? Contoh, kita tertarik dengan seseorang yang baru kita temui, kemudian ada keinginan supaya dia jadi pasangan kita, tentu kita yang memulai untuk perkenalan, tujuannya supaya dia juga suka sama kita, kalau sudah suka sama suka, jadilah hubungan.

Nah, menurut saya hal tersebut juga berlaku untuk organisasi, komunitas, maupun perusahaan, akan selalu ada yang meminta atau menawarkan, dan ada yang menyetujui di pihak lainnya. Hal tersebut sangat dinamis sekali dalam kehidupan kita. inilah mungkin yang kata pepatah, hidup itu kadang diatas dan kadang dibawah.

Ketika pertama kali kita pengen membuat komunitas, sebenarnya kita berada di bawah, kemudian kita akan mencari orang yang memiliki ketertarikan yang sama, dan "meminta" dia untuk membantu kita mengembangkan komunitas tersebut. Seiring dengan banyak nya orang yang bergabung di komunitas, maka seharusnya daya tawarnya pun naik. sehingga kemudian orang-orang lain yang ingin mengembangkan diri, "meminta" untuk bergabung ke komunitas tersebut. Selalu ada yang harus memulai dan dikorbankan memang. Pun demikian dengan perusahaan.

Menurut saya, ada 3 hal yang bisa menaikkan bargaining position seseorang / lembaga.

Pertama, pengorbanan. Selalu tidak ada pengorbanan yang sia-sia. Ketika kita memutuskan untuk memulai sesuatu yang baik, dan bersedia berkorban untuk itu, entah materi, waktu, tenaga, maupun pikiran dan ide-ide. Secara tidak langsung bargaining position kita akan naik. Atau lebih tepatnya posisi tawar kita akan berada lebih tinggi dari orang yang kemudian hanya ikut dan menikmati apa yang kita korbankan dan perjuangkan.

Kedua, peningkatan kualitas. Seorang cewek akan berusaha mempercantik diri supaya setidaknya yang akan tertarik padanya juga ganteng. Atau calon mertua akan lebih bisa mempercayakan anak gadisnya pada cowok yang lebih mapan. Komunitas dengan segudang prestasi akan lebih menjadi pilihan untuk mengembangankan diri. BUMN dan perusahaan multinasional umumnya lebih penjadi pilihan bagi pelamar kerja daripada industri rumahan.

Ketiga, konsistensi. konsistensilah yang pada ahirnya membentuk sebuah identitas. Seseorang yang sudah bertahun tahun berkutat pada dunia pertanian, secara tidak langsung akan dijadikan sumber pengetahuan bagi orang baru mau memulai bertani.

Bargaining position biasanya akan memutuskan siapa penentu arah dan siapa pengikut. kembali ke masalah komunitas temen kantor saya tadi, ketika komunitas tersebut punya nilai tawar yang tinggi, tentu akan mudah membuat orang-orang mengikuti setiap agenda kegiatan didalamnya. Mereka akan merasa "keren" dengan sendirinya ketika mereka bisa berkontribusi pada komunitas tersebut. Ketika yang terjadi sebaliknya, pada ahirnya kompromi-kompromi yang dihasilkan justru membuat komunitas tersebut menurunkan standar.

Semoga kita bisa termasuk sebagai orang-orang siap berkorban untuk hal yang baik, terus mengembangankan kualitas, dan bisa konsisten menjaganya.

Apa yang akan terjadi setelah itu? kita serahkan saja pada keberuntungan. :)