/ Essai

Tentang Agenda Meminta Maaf di Kampung Saya

"Ngaturaken sugeng riyadi, sedoyo kelepatan kulo nyuwun pangapunten". (selamat hari raya idul fitri, segala kesalahan saya mohon dimaafkan).

Waktu kecil, bapak mengajarkan saya mantra ini saat lebaran tiba, sesaat sebelum kita mulai berkunjung ke rumah saudara-saudara di kampung dalam rangka mencari jajanan lebaran. Sukur-sukur kalau ada yang memberi uang jajan tambahan.

Sejujurnya ini motivasi utama saya mau diajak jalan-jalan keliling (yaitu mencari uang jajan tambahan), dari satu rumah ke rumah lainnya, dari satu kampung ke kampung lain, tempat saudara saudara menyebar dimana-mana. Seolah-olah saudara saya tu sangat banyak dan tidak ada habisnya. Karena kami melakukan ini dari lebaran pertama sampai berhari-hari kemudian.

Ketika saya berkunjung, mencium tanganya saat bersalaman, dan mengucapkan mantra itu, kemudian orang-orang tua yang saya salami mulai mengucapkan mantra lain, "iyo le, pinter ngaji, pinter sekolah, bekti karo wong tuwo, oleh ilmu sing manfaat, supayo dadi wong sing manfaat kanggo masyarakat, agama, lan negara". (iya nak, moga jadi anak yang pintar dalam agama, dan pintar dalam ilmu umum, berbakti kepada orang tua, mendapat ilmu yang bermanfaat, supaya menjadi anak yang bermanfaat di masyarakat, agama, dan negara).

Saya sih ngga gitu ambil pusing, yang penting nunggu pamitan, trus dapet uang saku. Tapi kadang yang membuat saya jengkel adalah, ketika orang-orang dewasa yang memakan waktu yang lama untuk sekedar bersalaman dan meminta maaf, kadang sambil menangis, kadang dibumbui nasehat-nasehat yang banyak, kemudian saling bercerita dan tertawa.

Setelah cukup terbiasa dan paham dengan segala budaya itu, saya mulai bertanya-tanya, kenapa mereka menangis? apakah kita juga harus menangis? kenapa kita cuma minta maaf, tapi kemudian mereka merasa harus mendoakan dan memberi nasehat? apakah kita juga harus mendoakan dan memberi nasehat juga? kenapa mereka membawa kita dalam cerita-cerita masa lalu mereka?

Banyak pertanyaan yang muncul, yang setelah bertanya-tanya, saya bisa membuat beberapa kesimpulan.

Meminta maaf, menyampaikan kesalahan

Ini mungkin lebih mudah jika dianalogikan bukan pada hari raya idul fitri, karena semua orang minta maaf sekarang. Tapi sebenarnya tidak ada yang berubah, jika ada orang orang yang tau-tau minta maaf, tentu kita akan bertanya, minta maaf karena apa? Dan mungkin kenapa minta maaf itu susah di hari hari lain, juga karena ini. Kita tidak cukup berani untuk menyampaikan kesalahan kita.

Mungkin karena itulah mereka menangis, karena tidak bisa menyampaikan kesalahannya, mungkin terlalu berat untuk diakui, atau mungkin terlalu banyak. Entahlah. Yang jelas, mereka ingin menunjukkan kesungguhannya meminta maaf, dan penyesalan. Dan kalaupun ada kesalahan besar yang belum bisa disampaikan, kesalahan kesalahan kecil, seperti lupa berkunjung, lupa ngasih kabar, atau yang lainnya, sudah dimaafkan dulu, sehingga mungkin lebih mudah untuk meminta maaf lagi dikemudian hari.

Doa adalah bentuk apresiasi dari maaf

Orang-orang jaman dulu, yang membuat budaya saling memafkan saat lebaran, mungkin tetap ingin menunjukkan esensi bahwa minta maaf itu susah. Maka ketika orang sudah susah-susah datang untuk meminta maaf kepadanya, sudah seharusnya diberikan jamuan yang baik, dan didoakan yang baik-baik. Inilah kenapa kita sebanyak mungkin berkunjung ketika lebaran. Karena momentum lebaran di kampung saya, bukan cuma untuk meminta maaf, tapi juga meninta doa dari orang-orang yang lebih tua, dan lebih bijak.

Belajar dan mencari kebijakan

Saya, dan orang-orang di kampung saya, mungkin berpikir demikian. Bahwa kita perlu orang-orang tua yang mengajari kita banyak hal. Mereka sudah hidup lama dengan dengan permasalahan-permasalahan yang mereka hadapi, yang artinya mereka punya nilai-nilai yang bisa kita pelajari dan kita amalkan. Orang-orang tua pun merasa paham dengan hal tersebut sehingga akan mulai banyak bercerita jika kita berkunjung.

Disisi lain, saya merasa bahwa orang-orang tua selalu membutuhkan orang yang mau mendengerkan ceritanya. Dan sebagai yang lebih muda, bentuk balas budi paling sederhana ya mendengarkan cerita mereka.


Agenda saya selalu padat dengan kunjungan ke saudara saudara, paklek, bulek, pakdhe, budhe, mbah-mbah, guru-guru, dan ziarah ke makam-makam leluhur. Saya percaya bahwa berkunjung ke orang tua, yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, adalah salah satu bentuk memenuhi hak orang-orang tua kita, yaitu untuk didengarkan, atau setidaknya untuk dikenang.

Akan banyak cerita tentang sejarah, tentang kehidupan leluhur kita, nasihat-nasihat yang baik, juga doa-doa yang baik, yang kita tinggal mengamini saja. Maka, saya percaya bahwa budaya lebaran di kampung saya ini adalah budaya yang baik, yang harus saya jaga juga.

Selamat lebaran ya teman-teman.
Maaf untuk tulisan egois saya selama ini.
Selamat keliling kampung masing masing.