/ Essai

Tentang Takut Menjadi Berbeda

Beberapa bulan yang lalu, saya dan teman-teman kantor berkunjung ke kantor Jakarta, dan karena ada teman lain yang kebetulan juga sedang di Jakarta, kami sempatkan untuk ngumpul di mall, untuk sekedar nonton bareng dan ngobrol-ngobrol. Kami nongkrong di area yang (waktu itu, kayaknya) akan digunakan untuk festival makanan. Meja dan kursi sudah tertata rapi, tapi belum ada merchantnya sama sekali. Jadilah kami nongkrong versi murah disana. Ngobrol ngalor-ngidul sampe malam.

Di tengah obrolan itu, seorang teman mengutarakan kegundahannya pada suasana yang menurutnya sedang "panas", kenapa social media jadi aneh seperti ini? kenapa semua orang tiba-tiba merasa perlu untuk ngomongin masalah politik yang bahkan tidak mereka ketahui? Kenapa semuanya saling memaksakan fanatisme pada salah satu kandidat? Kenapa banyak tersebar kebenaran Tuhan yang terdengar seolah saling bertentangan?

Waktu itu Jakarta memang sedang disibukkan dengan pemilihan Gubernur, yang mungkin bahkan lebih ramai daripada pemilihan Presiden. Dan karna saya bukan orang politik dan nggak begitu paham politik, ini sama sekali bukan tentang memilih siapa, bukan tentang demo-demo yang menghiasinya, bukan pula tentang isu isu yang diangkat, toh pilkadanya sudah selesai. Sebenernya saya menunggu-nunggu untuk itu, menunggu semua kegaduhan yang ditimbulkannya reda. Karna internet dan media-medianya sudah sangat sukses membuatnya tambah gaduh. skala pilkada yang seharusnya cuma di jakarta, menjadi obrolan ibu rumah tangga di daerah yang bahkan tidak pernah nonton berita.

Obrolan tentang politik (mungkin karena eksklusifitasnya) selalu terdengar menarik, mengobrolkannya seolah menambah ke-keren-an kita secara signifikan. Orang yang mendengar akan menganggap kita paham kondisi negara, mengganggap kita peduli dengan rakyat kecil, atau setidaknya membuat kita seakan penting untuk didengarkan. Dengan konten yang selalu diminati, bahkan semakin sensitif justru semakin laris, kira-kira saya kebayang sih, berapa koin-koin yang bisa dihasilkan dengan menempelkan iklan disana. Apalagi kalo sampe viral. Belum lagi, tanda terima kasih dari masing-masing kubu yg berkepentingan. i'm pretty sure they play a huge amount of money there.

Dulu, kalo nggak salah ingat, ada iklan operator seluler yang menurut saya menarik, meski sangat sensitif. Di iklan tersebut, si pembuat iklan mengandaikan pengguna operator telepon selular sebagai supporter sepak bola. Iklan ini sangat singkat, ada beberapa supporter yang merayakan sesebelasannya berhasil mencetak goal, sebuah ekspresi yg wajar. Hanya saja ternyata mereka merayakan kegembiraan mereka sendiri, sedang semua orang di sekelilingnya merupakan supportem team lawan. Si pembuat iklan memainkan awkward moment nya disini. Mengingat yang terjadi dulu tentang sepak bola indonesia adalah tawuran antar supporter, tentang anarkisme-anarkisme yang timbul karena fanatisme pada kesebelasan tertentu.

Ketika melihat iklan tersebut, jika kita adalah minoritas, kita akan berfikir, "wah, bahaya ini kalau saya tetap menjadi berbeda", sedangkan jika kita mayoritas, kita akan berfikir "makanya jadi mayoritas, cari perkara saja kalian itu", atau setidaknya kita akan tertawa puas melihat mereka ekspresi ketakutan mereka. Menurut saya iklan itu seolah memaksa kita untuk menjadi seragam, bahwa berbeda berujung pada celaka dan musibah. Bahwa intimidasi-intimidasi akan terjadi jika kita berbeda, terutama jika berbeda dari mayoritas.

Agak susah dipungkiri, kita kadang terlalu bangga menjadi mayoritas. Mayoritas yang saya maksud bukan hanya mayoritas dalam arti jumlah individu, melainkan juga jumlah keilmuan, kekuatan maupun kekuasaan. Suara mayoritas adalah sebuah kebenaran baru. Mayoritaslah yang berhak menentukan seseorang normal atau tidak, waras atau bukan. Kita akan sepakat bahwa tidak benar berarti pasti salah, tidak pro berarti kontra, tidak memihak berarti anti, tidak menyatakan dukungan berarti harus dilawan. Dan melawan mereka yang berbeda adalah sebuah kewajiban untuk menegakkan kebenaran. Atau sekurang-kurangnya, membully.

Membully mereka yang miliki bentuk fisik berbeda, berpenampilan berbeda, berkeyakinan berbeda, mendukung pemimpin berbeda, menjadi bentuk kebanggaan sebagai bagian dari mayoritas. Hanya saja, sebenarnya hal tersebut membuat kitapun takut menjadi berbeda. Bahwa jika berbeda, kita akan jadi sasaran bully berikutnya. Bahwa kita tidak akan mendapat dukungan, kita akan terintimasi, tidak mendapat keadilan, atau tidak mendapat keuntungan.

Menurut saya, manusia lahir dengan satu perasaan dasar, yaitu rasa takut. Itulah mungkin kenapa kita lahir dengan menangis. Rasa takutlah yang melahirkan perasaan lain. Takut kehilangan membuat kita protektif, cinta. Takut direndahkan membuat kita berusaha menjadi lebih tinggi. Takut sendirian membuat kita belajar menjalin hubungan, dan sebagainya. Sehingga patuh, suka, cinta, rindu, benci, iri, hasut, sombong, egois, setia, rajin, malas, semuanya berasal dari rasa takut.

Ketakutan sekaligus merupakan kondisi yang paling tidak stabil pada manusia, di kondisi inilah kita mudah dikendalikan. Atau mungkin kita justru ingin dikendalikan. Karena kita perlu melakukan sesuatu agar kondisi kita lebih stabil, menghilangkan kegelisahan atas ketidakpastian yang akan kita hadapi. Maka dari jaman dulu, manusia selalu membutuhkan Tuhan, membutuhkan ujung dari semua ketakutannya, dan jawaban dari semua ketidakpastian yang akan dihadapinya.

Maka mereka yang mengetahui hal ini, seringkali memanfaatkan ketakutan orang lain untuk mengendalikannya. Terorisme, intimidasi, anarkisme, ketidakadilan, kesenjangan sosial, sangat sukses dalam menimbulkan ketakutan yang masif. Semakin banyak ketakutan yang bisa ditimbulkan, membuat kondisi kita semakin tidak stabil, membuat kita meragukan kebenaran yang kita yakini sebelumnya. Mereka hanya perlu memanfaatkan sedikit logika ketidakpastian sehingga kita akan meyakininya sebagai kebenaran dari Tuhan yang mutlak.

Kondisi seperti ini, menurut saya disebabkan karena kita malas berfikir, kita malas untuk mencari kebenaran. Padahal itulah yang kita perlukan untuk mencari jawaban atas ketidakpastian yang akan kita hadapi. Yang merupakan kewajiban mutlak kita dari lahir sampai mati. Bahkan ibadah pun baru diwajibkan di usia kedewasaan berfikir seseorang, yang di Islam dikenal dengan istilah akil baligh. Kita sudah terlalu nyaman mengesampingkan dasar-dasar keilmuan yang kita butuhkan untuk kehidupan kita sehari-hari, dan menelan mentah-mentah produk praktis yang sudah dibumbui kepentingan-kepentingan.

Sebagai contoh, ketika seseorang muncul dengan jubah agama dan mengatakan bahwa mereka membawa kebenaran Tuhan, kita tidak akan berani mempertanyakan kebenarannya, karna yang namanya ajaran agama selalu baik. Sehingga akan sangat mudah bagi mereka menutup kebenaran dengan mengatakan bahwa agama bukan tentang logika. Kemudian kita akan seperti kerbau yang dicocok hidungnya, memakan bumbu-bumbu politik yang menghiasinya.

Bukti lain dari kebanggan sebagai mayoritas, dan dukungan terhadap mereka yang terlihat seolah seperti sedang membawa kebenaran Tuhan, adalah kita sangat semangat untuk menyebarkan berita di social media seperti facebook, twitter, dan lain-lain, maupun chat platform seperti whatsapp, BBM dan lain-lain, tanpa mencari kebenarannya. Tanpa kita tau bahwa informasi yang disebarnya justru memiliki potensi merusak kedamaian atau setidaknya mendukung keserakahan penguasa. Kemudian ketidakadilan akan semakin masif, sedang cinta dan kebahagian semakin private dan eksklusif.

Dalam buku Sejarah Hidup KH. A. Wahid Hasyim, terbitan Pustaka Tebuireng, ada kumpulan tulisan beliau yang salah satunya membahas tentang islam dan mistisisme, di sana yai Wahid Hasyim mengutip sebuah hadist yang berbunyi. "agama adalah logika, dan orang yang tidak sempurna akalnya, tidak mempunyai agama". Bahwa agama tidak untuk dibenturkan dengan logika. Bahwa segala sesuatu yang diajarkan oleh agama bukan hanya benar dan baik, tapi juga sesuatu yang masuk akal. Hanya saja, sebagian orang menutup kebenaran, menyebarkan ketakutan sehingga kita mudah untuk dikendalikan.

Oleh karena itu kita selalu dituntut untuk berfikir, belajar, dan mencari ilmu Tuhan yang tersebar dimana-mana, untuk menjawab ketidakpastian dan menyelesaikan masalah-masalah praktis dalam hidup. Tak heran, jika putranya, KH. Abdurrahman Wahid, presiden kita ke-4, selalu memperjuangkan kesetaraan, humanisme, plularisme dan toleransi. Bahwa menjadi berbeda dan beragam adalah keniscayaan dari Tuhan.

Jadi yang perlu kita lakukan jutru ya belajar mengenal perbedaan-perbedaan tersebut. Mengenal cara berfikir yang berbeda, kondisi fisik maupun geografis yang berbeda, masalah-masalah yang berbeda, solusi-solusi yang berbeda, sejarah yang berbeda. Dengan demikianlah kedewasaan berfikir kita tumbuh. Bahwa selain benar dan salah, Tuhan juga menyiapkan ruang-ruang lain disana, seperti toleransi, negosiasi, kepantasan, keindahan, dan cinta. Maka kesemua itu akan berujung pada "rohmatan lil alamin", kebaikan bagi seluruh alam semesta.

Kira kira seperti itu, wallahu a'lam.