/ Essai

Potret Indonesia di Kereta Api Kelas Ekonomi


Dalam waktu dekat ini saya berfikir bahwa sungguh miniatur indonesia bukanlah di TMII (Taman Mini Indonesia Indah) yg ada di Ibukota. Dimana disana berisi tentang seluruh rumah adat dan kebudayaan yg ada di Indonesia. Dulu sempat saya berfikir bahwa untuk mengelilingi indonesia apabila tidak memungkinkan, pergilah ke TMII. Saya pergi kesana dan menemukan replika2 rumah adat dari seluruh tanah air. Namun, indonesia bukan lahir dari rumah adat. Melainkan dari orang2 yg menjalankannya. Pemerintah dan Rakyat. Kemudian, apabila suatu saat kebetulan saya mendapat tamu atau kenalan lah, yang datang entah dari mana dan ingin mengenal indonesia, akan saya bawa kemana dia? Sampai ahirnya saya harus mengingat2 kembali tentang perjalanan2 yg sudah saya lalui. Dan berfikir “ah, mungkin saya sudah pernah menjumpai tempat seperti itu”.

Perjalanan akan memberikan banyak inspirasi, Dalam setiap perjalanan sebelumnya, kereta apilah yg menjadi sarana perjalan saya setiap kali. ya, kereta api kelas ekonomi. sesuai tingkat kemampuan ekonomi saya sebagai seorang mahasiswa atau dulu sebagai siswa SMA. Sebagai seorang yg harus meminimalisir biaya transportasi sekecil mungkin. Tapi ada alasan lain yg membuat saya akan tetap memilih kereta api kelas ekonomi sebagai teman seperjalan terfaforit saya. ada "potret indonesia" di sana.

Unik juga, karena tempat yg ada dibenak saya, yang merupakan potret indonesia, justru ada di sebuah kotak panjang yang berjalan diatas 2 buah besi baja yang ironisnya justru ditahan oleh kayu. Bukan di pantai dimana saya bisa bersenang senang dengan air laut, atau di pegunungan dengan tenang nya suasana dan keindahan alam. Apalagi di TMII. :)

Inilah beberapa alasan egois saya kenapa potret indonesia ada di kereta api kelas ekonomi berikut tokoh2 utamanya.

  1. Masinis adalah Presiden. Tugasnya cuma mengantarkan penumpang sampai tujuan, entah tepat waktu atau molor 2 sampai 3 kali lipat perjalanan. Duduk di tempat paling depan dari sebuah kereta api. Dialah yg bertanggung jawab apakah kereta akan terus atau harus berhenti karena kereta dengan harga karcis lebih tinggi akan lewat. Tanpa harus tahu apakah pemumpangnya bisa duduk dengan nyaman atau tidak, bisa menggunakan toilet atau harus kencing dalam botol air mineral.
  2. Kondektur adalah Petugas Pajak. Tugasnya ya menarik karcis dari pemumpang. Tampang2 Kondektur kereta tergolong ramah. Beda kalau kita berhadapan dengan kondektur bis lintas sumatra. :). Karena tampangnya ramah, maka jika ada masyarakat yg “bernyali tinggi” akan sangat mudah untuk diajak negosiasi. Yg tentu saja menguntungkan 2 belah pihak. Tentu saja pihak kondektur dan si”nyali tinggi” tadi dan bukan untuk kepentingan kereta dimana kita duduk dengan tenang menuju tempat tujuan.
  3. Polisi kereta. Soal yg ini, mau di kereta ato bukan, yg jelas anda tentu bisa menceritakan lebih baik dari saya.
  4. Petugas Reservasi adalah BUMN. saya sendiri kurang begitu paham soal ini, soalnya saya jarang sekali menggunakan layanannya karena beberapa alasan, mahal dan kurang fariatif. Mereka sebenarnya adalah penghasilan utama kereta api selain pajak (baca: tiket). Kerjaannya santai dan seolah tanpa beban, tanpa inovasi, tanpa perkembangan.
  5. Penumpang adalah masyarakat. Didominasi oleh penumpang dengan tingkat kesejahteraan menengah kebawah. Atau masyarakat menengah ke atas yg pelit (baca: ngirit) atau justru ingin merakyat :good: , ini adalah point yg ingin saya tekankan, karena saya adalah bagian dari ini. Saya adalah penumpang. Yg kadang2 jadi warga negara yg baik. Dan tak jarang menjadi seorang gayus (baca:mafia pajak). Masyarakat di kereta api ekonomi merupakan masyarakat timur yg ramah, yg tak jarang memberikan kursinya untuk bergantian dengan nenek2 yg tak mendapat kursi meskipun cuma sebentar. Keramahan mereka pula yg membuat suasana di kereta api semakin nyaman. Karena merasa dari golongan masyarakat yg sama, akan terjalin keakraban dan perbincangan yg menarik. Di samping penumpang seperti saya, ada pula yg berprofesi menjadi artis (baca:pengamen), atau menjadi pengusaha (baca:pedagang asongan). Masyarakat kadang kala duduk saja dengan santai memasrahkan nasib mereka pada presiden kereta api. Dan kadang2 pula mengeluh jika kereta api terlalu sesak dan atau ketika kereta api terlalu lama berhenti di sebuah stasiun kecil yg bukan merupakan tujuan mereka. Memang, ada yg rela memberikan tempat duduk untuk seorang nenek yg lelah berdiri. Namun, ada juga yg dengan tenang tidur telentang menghabiskan 3 buah kursi dimana yg lain tetap berdiri .
kereta api ini adalah Indonesia

kereta api ekonomi adalah Indonesia. Punya mental mengalah pada kereta api lain yg punya kelas lebih baik. Atau sesama kereta api ekonomi yg punya rute lebih jauh. Disini pula terjadi keakuran tingkat tinggi oleh para petugas-petugasnya. Dimana masing2 akan saling bantu2 untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Polisi kereta bisa saja punya kerja sambilan sebagai petugas pajak, bahkan petugas reservasi pun demikian.

Kereta api ekonomi adalah Indonesia. Dimana penumpang mau tidak mau harus di pasrah pada keadaan apapun yg terjadi pada mereka yg memiliki ancaman lebih tinggi dari kereta api kelas lain.

Kereta api ekonomi adalah Indonesia. Dimana penumpang sudah terbiasa dengan kondisi seperti itu. Dan dengan kreatifitasnya selalu memikmati dan memanfaatkan situasi yg ada.

Bukankah kereta api mau dari kelas ekonomi atopun kelas lain, tetap sama2 kereta api. Kenapa kereta api ekonomi sesekali tidak berusaha mendahului kereta api exekutif yg egois? Sekali lagi di kereta api ekonomi, atau katakanlah di Indonesia. Penumpang harus sabar. Kalo anda merasa orang yg kurang sabar, sesekali naiklah kereta api ekonomi.

:)

nah, teman. Itu tapi sekilas tentang tulisan egois dan tak berguna dari saya. Saya hanya menghubung2 kan apa yg sebenarnya bahkan tidah terhubung sama sekali. Suma belajar menulis dan ngepost. Kritik dan saran tentang tulisan saya akan sangat saya apresiasi. Terima kasih.