/ Essai

Tentang Culture Shock dan Mencintai Tanggung Jawab

Beberapa waktu lalu, seseorang bercerita ke saya mengenai saudaranya yang (pernah) mengalami baby blues. Waktu itu saya tidak tau apa itu baby blues, kemudian dia menjelaskan dengan antusias bahwa ini merupakan penyakit psikologi karena stress dan tekanan setelah melahirkan, yang biasanya terjadi setelah melahirkan anak pertama. Hal ini menyebabkan penderitanya mood swing banget, menjadi sangat mudah marah maupun sedih, karena memiliki perasaan strees dan tertekan tadi. Ketika semakin parah, akan menjadi yang namanya postpartum depression, yang berakibat ada keinginan untuk menyakiti diri sendiri ataupun bayinya. Menurutnya, baby blues sendiri secara singkat bisa disebut dengan istilah culture shock.

Saya yang baru kali ini mendengar cerita tersebut tentu terperangah, karena hal ini tentu bukan terjadi pada mereka yang tidak menginginkan bayinya. Mereka terlihat normal-normal saja, melalui pernikahan yang normal, dan tentu saja secara normal ingin memiliki anak. Normal dalam ukuran sosial saya tentu saja. Yang membuat saya lebih kaget, ternyata hal ini menurutnya wajar dan banyak ditemui saat ini.

Padahal yang saya lihat sepertinya semua orang bahagia-bahagia saja memiliki anak, mengunggah foto di semua kanal media sosial, mendapat selamat dan kunjungan dari teman dan saudara, harapan-harapan baru yang tumbuh dengan segera, dan lain sebagainya sehingga aura kebahagiaanlah yang tersebar kemana-mana. Saya tidak pernah menyangka kalau ternyata, beberapa belum siap dengan tanggung jawab yang bertambah karena seorang anak, dan merasa bahwa memiliki anak artinya bertambahnya tanggungan, kemudian timbul ketakutan akan hilangnya kebiasaan yang sebelumnya sudah menyenangkan. Sehingga muncul pikiran "kok sekarang hidupku jadi begini ya?"

Baiklah, saya memang belum punya anak, dan bukan seorang yang akan melahirkan, jadi mungkin saya tidak memiliki kapasitas untuk membahas masalah ini lebih dalam. Hanya saja, jika hal ini bisa dianalogikan menjadi culture shock -sebagaimana seseorang menyebutnya demikian-, maka ini bisa terjadi pada semua hal. Apakah itu tempat tinggal yang berubah, lingkungan yang berubah, keadaan sosial yang berubah, maupun tanggung jawab yang berubah.

Saya sendiri pernah mengalami culture shock barangkali, ketika dulu orang tua saya mengirimkan saya untuk hidup di pesantren yang sangat jauh dari mereka, setelah lulus Sekolah Dasar. Hal ini tentu saja membuat perubahan yang besar untuk hidup saya. Hampir seluruh kebiasaan yang sebelumnya sangat bergantung pada orang tua, harus saya lakukan sendiri. Awalnya saya memang excited, dan menganggap ini adalah sebuah petualangan baru. Namun, beberapa saat setelah memaksakan kebiasaan baru yang berulang, hal tersebut membuat saya bosan, sehingga sayapun berpikir, "kok sekarang hidupku jadi begini ya?"

Mungkin pertanyaan tersebut muncul karena ketakutan saya akan berkurangnya kebahagiaan yang sebelumnya sudah saya nikmati. Yang kemudian harus diganti dengan kebiasaan baru dengan tanggung jawab yang lebih banyak, yang saya tidak tau apakah ada kebahagiaan di ujungnya. Namun, melihat banyak orang yang sudah melalui hal tersebut dan dapat menemukan kebahagiaanya sendiri, saya berusaha untuk mencari hal-hal yang menarik di sana. Bahwa ternyata jika kita memenuhinya dengan pikiran positif akan sebuah harapan, bahkan ada kebahagiaan yang bisa kita nikmati dari setiap prosesnya.

Menurut saya, semua permasalahan psikologi memiliki muara masalah di cara berpikir seseorang, oleh karena itu tidak tepat jika kita mempersalahkan keadaan external yang berubah sebagai alasan munculnya permasalahan tersebut. Karena jika demikian, maka akan susah juga dicari solusi secara psikologi. Di komik Naruto yang saya baca, sepertinya si pengarang ingin menyampaikan bahwa, dalam mengambil setiap tanggung jawab, kita harus terlebih dahulu memenuhinya dengan cinta, dengan demikian tanggung jawab bukan lagi menjadi sebuah tanggungan, melainkan jalan menuju kebahagiaan.

Masyarakat jawa sendiri, memiliki ungkapan "banyak anak banyak rejeki". Menurut saya ungkapan ini sebenarnya sangat bagus, jika tidak dilihat dari sisi materialistis. Karena menurut saya, itu merupakan wujud kepatuhan menerima tanggung jawab, dan pada setiap tanggung jawab, ada rejeki di sana, yang bisa berupa materi, kebahagiaan, maupun yang lain. Sedang melihatnya dengan kaca mata materialistis, hanya akan berakhir pada egoisme dan tuntutan tuntutan yang sering kali berlebihan.

Jadi kalau saya boleh mengambil kesimpulan, baby blues, maupun culture shock, bisa juga disebabkan karena masih ada ruang yang belum dipenuhi dengan cinta, atau ada sedikit saja keraguan maupun ketakutan akan hilangnya kebahagiaan yang sudah dinikmati selama ini. Maka penting bagi kita untuk selalu berifikir positif akan perubahan yang mungkin terjadi pada kehidupan kita, mencintai setiap tanggung jawab yang akan kita jalani, sebagai jalan menuju kebahagiaan.

Mungkin ini yang disebut juga dengan adaptasi, entahlah.