/ Essai

Kota Malang Anti Hijau, Kota Kembang Benci Orange

ini adalah sebuah cerita dari perjalanan saya mengisi liburan 2 bulan yg lalu. saya melakukan backpacker bersama 2 orang teman. dengan rute dari semarang-kertosono-jombang-malang-batu-kediri-bandung-solo-kembali lah ke semarang. perjalanan yg kami lakukan selama sepuluh hari ini tentu sangat mengasyikkan, kami dengan bebas bisa melangkahkan kaki dimana ada tempat menarik dan ingin kami kunjungi.

namun, dari awal keberangkatan, kami sudah di bayang2i akan seperjalanan dengan supporter sepak bola PSIS. kondisi stasiun kereta api Poncol sangat ricuh dan tidak terkendali. bahkan petugas yg berwenang tidak sanggup melakukan apa apa. selama perjalanan, memang persepakbolaan diindonesia sedang dihiasai dengan pertandingan2 besar. sehingga supporter2 takkan menyia nyiakan kesempatan mendukung tim kebanggaan mereka.

Kota Malang anti Hijau

ini bukan pertama kalinya saya datang ke kota malang. dulu sempat saya sering jalan-jalan ke kota ini dan sudut-sudut kota pun hampir saya menghafalnya. namun, dua orang teman saya merasa terkejut dengan seluruh gang gang dikota malang yang seluruhnya di hiasi patung singa. tak hanya itu, gerobak2 orang jualan selalu di hiasi dengan atribut arema. mereka kagum dengan loyalitas dan totalitas Aremania (supporter Arema). namun disisi lain, sebuah cerita dari seorang teman yg kami singgahi kontrakannya di kota malang bercerita tentang warga warga yang sangat anti dengan warna hijau. its okey. semua orang tau kalau aremania dan bonex tak pernah akur. tapi ada masalah apa dengan hijau?

ini adalah cerita dari teman saya. sewaktu dia OSPEK dulu, dia bersama kelompok OSPEKnya harus selalu punya yel2 dan atribut. dan mereka di dominasi warna hijau. singkat cerita, ketika mereka tampil dalam menyorak2 kan yel2 nya. sontak warga berbondong2 menuju pagar kampus nya dan menyuruh mereka melepas kaos dan segala atribut yg berwarna hijau. karena ketakutan teman saya pun langsung menggantinya (kebetulan dia membawa baju ganti). namun karena salah satu temannya masih belum ganti sampai pulang ke kontrakan, dia jadi bulan2an massa. kasihan....

bandung dan orange

cerita ini agak sedikit menggelikan, terjadi ketika saya berada di kampus seorang teman, dan disana sedang ada sebuah pementasan. saat ashar tiba, saya dan teman saya pergi ke masjid kampus. karena kebetulan saya kebelet buang air kecil, saya masuk kamar kecil. dan saya melihat sebuah coretan di dinding (tampak baru) bertuliskan "the jack", lengkap dengan simbol berupa jari telunjuk dan ibu jari. seletah usai sholat ashar, saya merasa perlu ke wc lagi (kebetulan saya masuk wc yg sama),  terlihat tulisan tadi sudah berubah menjadi "the jack An**ng". saya sendiri terkejut dengan cepat tanggapnya respon mereka terhadap tulisan the jack. saya jadi sepat berfikir. jangan2 kalo saya make orange di bandung, ceritanya bakalan kaya di malang deeh....

pendapat

ini menunjukkan bahwa dengan adanya sepakbola untuk mempererat persatuan dan kesatuan, sama sekali belum terjalin, ditunjukkan dengan sesungguhnya kita tidak siap untuk berkompetisi. tidak siap untuk kalah dengan tim lain yg notabene masih satu keluarga dengan kita. keluarga indonesia. yg sesungguhnya dengan kekalahan menunjukkan bahwa kita harus belajar, supaya tidak terjatuh lagi. Itulah mental seorang juara. bukan mental, apabila kalah kita salahkan lawan bermain kotor. wasit berat sebelah, atau bahkan melampiaskan kemarahan ke supporter lawan. yg berujung pada dendam. ini menunjukkan kita masih jauh dari persatuan dan kesatuan. berbeda kaos aja terkadang bisa membuat kita kehilangan nyawa.

oke, semisal gini. gmna kalau PSSI menyetop aktifitas seluruh supporter. "seluruh liga lokal, tidak boleh ditonton warga Indonesia", liga lokal tetap ada namun pelaksaannya diam2. warga hanya diperbolehkan menonton, pertandingan tim nasional. mungkin itu akan membuat kita satu seragam lagi. seragam merah putih.

dukung terus sepakbola indonesia. thx.