/ Essai

Konsensus Takdir

Kalau saya pikir-pikir lagi, jarang sekali saya ngomongin soal takdir. Omongan soal takdir yang muncul di perbincangan antar teman biasanya selalu diasosikan kepada kekecewaannya terhadap sesuatu. Yang biasanya akan ditutup dengan kalimat, "Sudahlah, mungkin ini memang takdir-Nya, kamu yang sabar ya". Jadi biasanya memang, kegagalan, ketidakpuasan, penderitaan, selalu diasosikan dengan takdir. Sehingga diabadikan Desy Ratnasari di salah satu lirik lagunya, "takdir memang kejam, tak mengenal perasaan", yang sempat hits jaman dulu. Meskipun ada juga sih yang menggunakan takdir untuk mengklaim kekuasaan dan kemenangan yang terjadi dimasa datang. Sehingga dia mendapatkan dukungan untuk menyongsong takdirnya.

Beberapa waktu lalu, sempat juga terjadi perbincangan dengan seorang teman, dia mengangkat sebuah ungkapan yaitu, rejeki, jodoh, dan mati, itu udah diatur sejak manusia belum lahir. Namun dia sedikit kurang puas dengan itu, karena kemudian dia menambahkan, "Nah terus aku kepikiran gini, semisal jatah rejeki ku memang cuma segini, berarti aku usaha dan kerja kayak gimana pun yaa udah jatahnya memang cuma segini, pernah sih kepikiran gitu, cuma aku mikir lagi, ahh masak sedangkal itu sih? masak doa dan usaha nggak diitung sama Yang Diatas?".

Gara gara obrolan itu, saya jadi ingat salah seorang guru Aliyah (SMA) saya. Dulu, kira-kira beliau bilang begini, "Jodoh itu dihitung pas kamu mati, bukan dengan siapa kamu hidup". Guru saya menjelaskan bahwa orang biasa beranggapan bahwa jodoh ditentukan dengan oleh pernikahan, lalu bagaimana dengan perceraian, atau bagaimana jika pasangannya meninggal lalu dia menikah lagi.

Maka menurut guru saya, kita baru akan tau sebenernya siapa jodoh kita ya saat kita meninggal. Siapa yang pada ahirnya menemani kita di helaan nafas terahir kita. Kok jadi dalem sekali ya :D. Meskipun banyak juga yang mengklaim takdir sesaat setelah pacaran, atau mungkin sesaat setelah bertemu seseorang terlihat baik, atau mungkin, menarik. Wajar memang, seperti yang saya bilang diatas, seseorang butuh harapan, dan dukungan. Tapi yang tidak baik menurut saya adalah seringkali kemudian tuntutan yang muncul menjadi tidak wajar.

Oke, itu satu pendapat, bisa benar bisa juga salah, dan baru tentang jodoh, bagaimana dengan rizki, (rejeki)? Kalau rejeki ini sudah dibagi sama yang diatas, dibaginya kapan? gimana dibaginya? dalam bentuk apa? Pikiran ini sempat terlintas beberapa tahun lalu. Kemudian saya ingat, bahwa dalam ajaran agama saya (Islam), ada malaikat yang memiliki tugas khusus untuk urusan pembagian rizki ini, yaitu Mikail. Pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah, apa yang dibagi, emas kah? atau hujan? atau bentuk materi lain yang disebar, ditaroh dimana mana, kita tinggal cari, atau apa?

Menurut saya, kalau itu adalah materi, berharga atau tidaknya itu selalu bergantung pada ruang dan waktu. Ambil contoh emas, yang dulu nggak berharga sekarang bisa berharga banget, di daerah daerah tertentu, emas sama babi lebih berharga babi. Bahkan ada seorang teman yang cerita di daerahnya orang menggadaikan sertifikat tanahnya untuk ditukar dengan smartphone. Ini menunjukkan bahwa kualitas keberhagaan itu tergantung kapan, dan dimana. Lalu, apakah kualiatas keberhargaan itu yang dibagi?

Maaf, kadang saya memang berpikir untuk hal-hal remeh seperti ini. Dan kesimpulan saya yang paling masuk akal waktu itu adalah, Mikail membagi rizki setiap saat, dalam bentuk tanggung jawab. Jadi akan selalu ada tanggung jawab - tanggung jawab baru yang muncul kapanpun dan dimanapun. Dan rizki, adalah imbalan dari setiap tanggung jawab yang kita selesaikan, besar kecilnya pun berbantung dari seberapa besar tanggung jawab yang kita selesaikan. Maka hemat saya, rejeki bukan cuma materi, sehat juga rejeki, kebahagiaan juga rejeki, dan ini kalo dijabarkan banyak banget. Karena ini tidak terbatas ruang dan waktu, beberapa hal baru akan dirasakan ketika kita berada di dunia yang berikutnya, setelah kematian.

Jadi soal takdir, dari yang saya pelajari sejauh ini, ada dua macam. Ketetapan yang pasti (takdir mubram), dan ketetapan yang melibatkan usaha manusia (takdir muallaq). Yang pasti ini seperti keadaan saat kita dilahirkan, sesuatu yang kita tidak bisa menentukan sendiri, seperti jenis kelamin, siapa orang tua kita, seperti apa keadaan sosial saat itu, dan lain sebagainya. Selain itu yang pasti juga adalah, tatanan yang dibuat oleh Tuhan sendiri, yaitu hukum alam, adanya air hujan, mata air, gravitasi, matahari, siklus bintang, berjalannya waktu, kematian, surga dan neraka, siklus kebaikan dan kejahatan, dan lain sebagainya.

Selebihnya, semuanya melibatkan usaha manusia untuk menentukan takdirnya sendiri. Ini yang saya sebut dengan konsensus, kesepakatan antara Tuhan dan manusia. Dimana ada usaha dan doa disana, bisa salah satu maupun keduanya. Kalau yang kita lakukan adalah mengikuti hukum Tuhan, yang kemudian dirumuskan oleh manusia sebagai ilmu pengetahuan, seperti matematika, fisika, kimia, geografi, ekonomi, sosiologi, arsitektur, komputer, maupun yang lainnya, ya diperlukan akal dan usaha. Tapi kalau urusannya dengan sesuatu yang diluar itu, seperti keberuntungan, pengampunan, keselamatan, nasib baik, ya berarti diperlukan doa juga. Karena hal ini sering kali merupakan sesuatu yang tidak terpikirkan, apalagi diusahakan.

Jadi seharusnya, bukan takdir yang disalahkan atas ketidakpuasan, kegagalan, dan penderitaan. Karena ujungnya sebenarnya adalah pilihan manusia, mau pilih berjuang atau bertahan, mau pilih setia atau membangkang, mau pilih kesenangan sesaat atau penyesalan yang lebih lama, dan masih banyak lagi. Karena Tuhan sudah memiliki ketetapan untuk itu semua, dan menyediakan ruang untuk kita, tinggal kita yang memililih. Apakah itu jodoh, rejeki, dan lainnya. Pilihan selalu ada sampai kapanpun, setidaknya mungkin selama kita masih di dunia yang sekarang ini.