/ Essai

Tentang Kebebasan Absolut

Pernah terjadi perbincangan dengan teman, seorang designer, yang kira-kira bilang begini, "Pada akhirnya, kitalah yang menentukan apa yang akan kita lakukan, dan kita yang bertanggung jawab untuk itu, lalu untuk apa kita mematuhi peraturan saja?". Dia melanjutkan, "Kita tidak bisa menentukan apa yang orang lain lakukan, karna pada ahirnya merekalah yang akan bertanggung jawab terhadap apa mereka lakukan sendiri. Maka tidak seharusnya kita membuat peraturan untuk orang lain, dan sebaliknya".

Saya tahu betul bahwa dia punya maksud yang baik, yang sebenarnya mengajak kita untuk berpikir secara kritis, bahwa segala keputusan yang kita ambil adalah buah dari pemikiran kita, kemudian kita juga yang akan bertanggung jawab terhadap semua keputusan tersebut dan tindakan yang kita lakukan, kita tidak bisa membuat orang lain bertanggung jawab untuk itu, walaupun sedikit banyak kita terpengaruh dari mereka. Maka, jika kita hanya mengikuti peraturan yang sudah dibuat saja, ujungnya kita akan menyalahkan orang lain, dan itu adalah hal yang sia-sia.

Jika saya mendengar kalimat ini 7 atau 8 tahun yang lalu, mungkin saya langsung menjawab, "benar sekali", "setuju", atau yang serupa dengan itu dengan antusias. Bahkan mungkin saya akan membuat tulisan yang menjelaskan tentang peraturan dibuat memang untuk dilanggar, tentang idealisme yang mutlak diatas segalanya, tentang pembenaran atas pemberontakan-pemberontakan untuk menjaga idealisme, dan lain sebagainya, dengan bangganya. Apalagi waktu itu jiwa-jiwa pemberontakan saya masih tinggi sekali, pemberontakan level 1 tentu saja, malas, repot, atau pemberontakan level 2, mencari pengakuan.

Maka, meskipun sebenarnya saya setuju dengan maksud baik teman saya itu, justru saya merespon sebaliknya. Ada kekhawatiran jika dukungan saya akan menumbuhkan pemberontakan level 3, pemaksaan idealisme. Jadi, kira-kira, saya jawab seperti ini, "Aku ingat pelajaran PPKn pas SD, ada 4 norma yang harus diikuti dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Kalau nggak salah, ada norma agama, norma hukum, norma sosial, dan norma susila. Pelanggaran terhadap norma ini masing-masing punya sangsi, entah langsung maupun tidak langsung. Jadi ya tetap akan selalu ada peraturan yang harus dipatuhi lah. Yang artinya, menurutku sih kebebasan yang absolut itu hanya ada di otak kita aja, kita bebas untuk berfikir dan berhayal apa aja, se-ekstrim mungkin, tapi keluar dari otak, kalau dilakukan, ya beda cerita".

Sebagai contoh, kita berfikir bahwa bolos sekolah hanya berakibat buruk untuk kita, tapi ternyata orang tua juga akan malu dan menanggungnya jika jadi obrolan tetangga. kita mungkin berfikir jika bikin pesta narkoba hanya kita yang bertanggung jawab, tapi ketika digrebek, masalahnya akan panjang, seluruh wilayah tersebut juga ikut repot, RT, lurah, tetangga, lembaga pendidikan, dinas sosial, dan sebagainya. Bahkan masyarakat seluruh negara sangat mungkin terkena sangsi travel warning jika banyak orang-orang yang melakukan bom bunuh diri, meskipun mereka melakukannya di rumahnya sendiri.

Berkaca dari pengalaman pemberontakan saya selama ini, pelanggaran terhadap peraturan-peraturan yang berlaku untuk saya, masalah yang saya timbulkan, yang awalnya sayapun berfikir, "ini masalah masalahku kok kamu yang sewot", ternyata tidak bisa demikian, karna sebenarnya selalu ada orang lain yang bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan. Belum lagi penyesalan-penyesalan yang akan muncul setelahnya, yang menghilangkannya, kadang butuh perjuangan batin yang tidak sebentar.

Kemudian saya sadar, bahwa salah satu hal yang penting dalam menjaga keharmonisan hubungan adalah sikap patuh. Baik itu pada norma-norma yang berlaku, maupun pada orang-orang yang bertanggung jawab terhadap kita. Seorang anak sudah seharusnya patuh pada orang tua, seorang istri sudah seharusnya patuh pada suami, seorang pelajar sudah semestinya patuh terhadap peraturan institusi pendidikan, seorang karyawan sudah seharusnya patuh pada peraturan perusahaan, seorang warna negara sudah seharusnya patuh pada hukum, dan sebagainya.

Sebagaimana ditulis Soenjono Dardjowidjojo di bukunya -Runtuhnya moral kami-, tentang pepatah jawa "Manut lan miturut"-nya semuda kepada sesepuh, meliputi, tidak membantah, tidak mempertanyakan, tidak menolak, dan berbagai tidak yang lain. Hal inilah menjadi bumbu keharmonisan tata keluarga jawa dari jaman dulu. Atau dalam istilah pesantren, dikenalkan budaya takdzim, penghormatan yang besar terhadap kiai dan guru. Hanya saja untuk hubungan yang sifatnya organisatoris, hal tersebut tidak bisa sepenuhnya diaplikasikan. Oleh karena itu Soenjono menghubungkannya dengan pepatah inggris "The king can do wrong", bahwa kesalahan yang tetap bisa dilakukan bahkan oleh seorang raja, sehingga ada budaya untuk meminta maaf dalam hubungan vertikal dari atas ke bawah disana.

Maka saya simpulkan bahwa, pertama, sikap patuh sangat penting. Ketidakpatuhan, sangat memicu munculnya konflik-konflik, yang bisa berujung pada terputusnya sebuah hubungan. Kedua, untuk menjaga rasa patuh tersebut, hal lain yang diperlukan untuk mendukungnya adalah selalu berfikir positif dan toleransi yang besar. Ketiga, tentu saja dalam hubungan yang baik, selalu ada ruang negosiasi, hanya saja harus ditunjukkan dengan kepatuhan juga sebelumnya, bahwa ada i'tikad baik disana, untuk hubungan yang lebih baik.

Dalam negara demokrasi seperti disini, kurangnya sikap toleransi hanya akan berujung pada menyalahkan semua orang dan pemaksaan idealisme pribadi. Pemberontakan tidak akan membuat situasi semakin baik karena masalah yang ditimbulkan bisa jadi lebih banyak, dan kerusakan yang ditimbulkan bisa jadi lebih susah diperbaiki. Sedang mencari hubungan baru tentu bukan hal mudah, banyak yang harus dikorbankan untuk itu, terlebih pada akhirnya kita harus kembali patuh juga. Jadi apakah itu mempelajari kemungkinan kepatuhan kita sebelum menentukan hubungan, yaitu dengan mengukur sejauh mana kita bisa berfikir positif dan toleransi, atau meningkatkan kepatuhan untuk membuka ruang negosiasi adalah sama pentingnya. Karena untuk semua hubungan, saya rasa, normalnya semua orang ingin menjalin hubungan jangka panjang.