/ Essai

Jakarta : anak emas yg berhasilkah ?

Tulisan ini sebenarnya cuma repost dari blog saya yg terdahulu, sudah lebih satu tahun saya tidak blogging. dan semoga tulisan ini belum kadaluarsa. bayangkan saja ketika anda membaca tulisan ini anda berada pada maret 2009.

Mengunjungi jakarta (yang telah lewat 1 tahun yang lalu) sebenarnya mempunyai makna lebih selain hanya sekedar menghabiskan liburan di ibukota. Yaitu mengunjungi teman-teman SMA yang banyak melanjutkan kuliah disana. Sebenarnya nostalgia ini pun belum terlalu dalem karena kita belum lama lulus SMA, alias baru lulus tahun kemarin. Namun, karena banyaknya teman-teman yang disana membuat saya ingin yahu bagaimana kehidupan kota Jakarta. Ibukota Indonesia. Yang hanya saya tau di televisi. Hanya sekedar cari tau sebenarnya… pengen tau monas, pengen tau blok M, pengen tau jalan-jalan di kota Jakarta. Dan karena teman-teman banyak yang kuliah di Jakarta, maka untuk meminta akses ke tempat-tempat itu pun menjadi mudah. Malah saya dapet bonus tau puncak, bogor segala.

Setelah pulang ke semarang untuk memasuki semester baru perkuliahan, ternyata saya masuk kelas “khusus”. Saya sendiri nggak tau apakah ini sebagai anugrah atau malah musibah. Dan ketika mengingat kembali kondisi kota Jakarta, mungkin saya rasa kami senasib. Sama-sama di unggulkan, namun sama-sama semprawut. Jakarta yang diunggulkan Kalau kita amati, pembangunan di kota Jakarta memang nggak ada habisnya. Demi memuaskan penghuninya, Jakarta berubah menjadi kota yang sungguh besar. Sesuatu yang besar selalu identik dengan kekuatan. Dan ketika “seseorang” memiliki kekuatan, bagi diri sendiri, itu akan memunculkan sikap percaya diri dan berani bersaing (tentunya yang sadar akan kapasitasnya), dan kalau (kesadaran akan) kapasitasnya berlebihan, akan memunculkan sikap arrogan dan mau menang sendiri. Bagi orang lain, orang yang memiliki kekuatan bisa memberikan perlindungan dan jaminan rasa aman, dan tentu juga tidak menampik bahwa sebagian justru menjadi penyebab rasa aman mereka terusik. Bagi orang indonesia kota Jakarta sebagai “ibu” Kota tentu menjanjikan kemakmuran bagi masing-masing orang, di kapasitas tertentu mungkin ia, tapi sebagian orang mengabaikan fakta bahwa panti asuhan yang sebegitu –baiknya- mau menampung anak-anak yatim piatu tentu tidak akan mampu menampung setiap anak jalanan, meskipun setiap hari mereka mondar mandir didepan panti asuhan tersebut. Positif tingking bagus, tetapi segala sesuatu yang belebihan pun menjadi tidak bagus pula.

Saya pikir orang Indonesia terlalu mengandalkan orang yang punya kekuatan tanpa berpikir batas dari kekuatan yang mereka andalkan tersebut. Tanpa menyadari untuk berusaha membuat kekuatanya sendiri dan membantu orang lain dalam batasan kemampuan mereka. Seperti halnya bagi Jakarta, pembangunan yang tiada henti melebihi kota-kota lain di Indonesia membuatnya sebagai “Anak emas” yang tentu akan diunggulkan pula dalam semua aspek. Saya sendiri sebenarnya kurang setuju dengan konsep anak emas, pendapat perlakuan dan fasilitas lebih dari penyedia fasilitas, tentu akan menimbulkan kesenjangan antara (tentu) yang tidak memperoleh. Yah.. Kalau dipikir-pikir keadilan memang komleks. Namun karena melihat pola(karakter) orang Indonesia, konsep anak emas saya rasa kurang pas diterapkan. Mungkin sebagian orang akan bangga menjadi unggulan. Namun, tidak berlaku bagi yang lain. Jika melihat karakter dari masyarakan yang terlalu bergantung, justru akan memperburuk keadaan. Mereka akan melihat jelas “mana” tujuan mereka bergantung. Sehingga sedapat mungkin mencari akses kesana. Seperti halnya kota Jakarta, yang menjadi tempat bergantung orang seluruh Indonesia. Sering saya dengar “Jakarta Tempat mengadu nasib”, “ibukota lebih jahat dari ibu tiri” atau apa saja kata orang yang nggak akan habis di bahas. Yang jelas, ibu tiri yang satu ini bahkan sudah kewalahan untuk memberi efek jera pada anak-anaknya. Memberikan perhatian lebih pada anak emas tentu tidak terlepas dari pemberian fasilitas dan modal lebih kepadanya. Kenapa sih tidak terpikirkan untuk memberikan dana (yang mungkin itu jatah) kota Jakarta yang sudah tentu sangat besar jumlahnya kepada kota-kota kecil di Indonesia. Dengan adanya “saingan” seperti ini, tentu akan memberikan pilihan bagi masyrakat untuk tidak melulu bergantung pada kota Jakarta. Sehingga terjadi pemaksaan kuota yang menjadikan Jakarta semakin hari bukan menjadi semakin good looking, melainkan bad looking. Orang-orang betawi yang menjadi penduduk asli tertutup oleh jumlah pendatang yang semakin mumel saja. Sehingga nilai-nilai kebuadayaan pun semakin hari semakin tertutupi oleh ke-modern-an yang diadopsi dari Negara asing. Dan akan sulit bagi kita untuk menjumpai daerah daerah di Jakarta yang mengedepankan nilai-nilai budaya asli mereka (betawi).

Does it work?

Setiap orang tentu memimpikan untuk memiliki kota yang besar, atau setidaknya kota yang mencukupi kebutuhannya. Kebutuhan dalam arti kebutuhan dari segi pendidikan, fasilitas, dan juga tersedianya lapangan pekerjaan. Setidaknya hampir mirip lah dengan yang dimiliki kota-kota besar lain. Sehingga tidak perlu mengadu nasib di ibukota kalau toh di kampong halaman sendiri bisa mendapat yang serupa. Dengan demikian mungkin Jakarta bisa diet mengonsumsi manusia. Sehingga tidak perlu kekenyangan seperti sekarang. Mungkin ini seharusnya pemerataan itu, dalam tingkatan yang sama bukan memberikan yang besar fasilitas yang besar pula, melainkan yang kecil sebisa mungkin di beri fasilitas biar menjadi sama besar. Dengan demikian tentu tidak ada lagi yang merasa dirugikan dan merasa di langgar hak-haknya. (hehehe…)

Tentu tujuan dari semua itu baik. Cuman pencapaiannya saja yang kurang memuaskan. Bisa jadi juga karena metode yang digunakan kurang pas, atau konsepnya kurang matang saja. Dalam kasus saya, saya sendiri merasa kurang pantas berada dalam komunitas ini. Kalau penyaringan ini dilihat dari nilai yang diperoleh. Masih banyak teman-teman yang lebih pantas mendapat posisi ini. Mungkin karena diacak, yang beruntung saja yang bisa masuk ke komunitas ini. Aduh!! Berarti saya orang beruntung dong?;-) Sebenarnya ini bukan yang pertama kali saya masuk ke komunitas seperti ini, dulu ketika kelas 2 SMP saya juga masuk ke komunitas demikian sampai kelas 3. Namun, ketika keluar dari SMP saya merasa kurang memiliki pengalaman yang lebih atau setidaknya kenangan indah dibandingkan ketika SMA yang teman teman sekelas saya selalu semprawut dan susah diatur. Namun saya mendapati banyak kenangan dan pengalaman bersama mereka. Begitu pula saat semester lalu. Bersama teman kuliah yang error lebih banyak memiliki kebersamaan. Saya sempat komplen saat mendapati saya tidak bisa bisa input KRS(kartu rencana study), dan ketika dijelaskan saya masuk kelas unggulan, ada sedikit rasa bimbang antara ilmu dan pengalaman. Namun bukankah pengalaman itu juga ilmu yang terbaik? Saya pun memutuskan untuk mengikuti arus yang membingungkan ini. Ketika ternyata saya cocok dan menuju arah yang benar berarti saya tidak kesasar(tersesat). Kalaupun ternyata saya kesasar, saya akan mengikuti motto seorang teman ketika dia malu bertanya dan tersesat di jalan. “kasasar itu tau mana-mana!!”….;-)