/ Essai

Tentang Prioritas

Kemaren sempet terjadi perbincangan dengan seorang dosen di tempat gue kuliah. Disitu kita obrolin tentang banyaknya kesibukan yang ada, tentang beberapa tanggung jawab berbeda yang harus diselesaikan pada satu waktu. Memang, seringkali dalam hidup, kita harus menyelesaikan beberapa hal pada rentang waktu yang sama. Dan kalau seperti ini selalu aja kita harus memilih, mana yang duluan?

Katakanlah dulu pas masih SD, itu aja selain sekolah di pagi hari, gue dan temen temen gue di kampung masih juga harus sekolah sore (ngaji). Karna ngaji nggak begitu ada itungannya, ahirnya prioritas belajar ada pada sekolah yang punya banyak konsequensi, ada rasa malu dan hukuman dari orang tau kalau nggak naik kelas. Setingkat lebih tinggi, di sekolah menengah (SMP, SMA) kita mulai kenal ama kegiatan extra, ada exrakulikuler, ada osis. Dan kalo kita ambil bagian disitu, tentu kita punya tanggung jawab lain yang juga harus di selesaikan pada sebuah rentang waktu yang sama dengan status utama kita sebagai siswa. Yaitu mendapat nilai yg bagus dan lulus tepat waktu (baca : bareng sama temen temen yg lain :D). Belom lagi kalo disini kita masih bantu bantu orang tua, rentang waktu kita akan semakin penuh. Padahal lama nya sehari dari dulu sampe sekarang masih aja 24 jam. Lalu bagaimana dengan waktu seneng-seneng? Pacaran misanya?

Kalo gue pikir pikir, sebenernya dari kecil dulu kita udah terbiasa buat pengen bisa macem-macem. Bisa sekolah, bisa ngaji, bisa bisa main game, bisa pamer cerita di tivi dan komik, bisa pamer tempat tempat tongkrongan yang enak, dan lain lain. Dan kita terbiasa buat ngatur waktu buat bisa dapetin semua itu. Kalo sekolah pagi dan sore ngaji, berarti siangnya kita jadwalin buat main. Atau kalau siang ada extra kulikuler atau kegiatan osis, berarti mainnya malem. Atau kita udah cukup buat main cuman pas istirahat sekolah atau di sela waktu extrakuler.

Bahkan buat tidur di kelas pas jam pelajaran kadang sudah kita perkirakan sebelumnya, “ah besok gurunya santai, sekarang nggak papalaah nonton tivi sampai malam, di kelas tidur”. “Ah, nanti pelajaran nggak enak, bolos main PS nggak masalah juga”. Tanpa kita sadari kita udah belajar buat ngatur waktu kita seefisien mungkin. Semua itu tergantung dari interest kita. Dan tanpa kita sadari dari kecil kita sudah terbiasa untuk memilih sesuatu, dan tau akan konsequensinya.

Pilihan pilihan yang sudah pernah kita buat di masa lalu tentu sedikit banyak punya pengaruh pada pilihan yang akan kita buat. Contohnya, katakanlah kita sebelumya nggak pernah bolos sekolah atau kuliah, saat kita diajak bolos pasti berat banget buat bolos, tapi ketika kita bolos sekali dan ngerasa enak akan lebih mudah buat bikin agenda bolos berikutnya. Artinya ketika kita puas dengan pilihan kita, kita cenderung untuk melanjutkannya di masa depan. Atau sebaliknya. (di dunia IT banyak algoritma yang mengadopsi dasar intelligent manusia seperti ini, dan nggak akan gue bahas saat ini) . :D

ya, saat menginginkan semua itu pada satu waktu, kita tetap harus memiliki prioritas, yaitu mana yang kita dahulukan atau mana yang kita utamakan. Inilah yang disebut pada pilihan hidup, (kata orang orang, hidup itu pilihan. :lol:)

dan setiap keputusan yang kita ambil memiliki setiap konsequensinya juga, yang akan mempengaruhi keputusan akan prioritas yang akan kita ambil di kemudian hari. Itulah yang disebut “learning”. Tapi, masalahnya adalah, msemakin hari tentu pilihan yang kita hadapi akan lebih sulit, keputusan yang akan kita ambil lebih beresiko, dan konsequensi yang akan kita ambil jauh lebih besar. Ini normal, karena yang hidup harus berkembang. Bukan saja badan, otak, dan umur yang bertambah, masalah yang dihadapipun akan berkembang.

Keinginan kita ketika sekolah dasar tentu berbeda keinginan kita saat di perguruan tinggi, berikut dengan pilihan, masalah, keputusan dan konsequensinya. Yang jelas, disadari atau tidak, kita sudah di “setel” untuk punya banyak keinginan, dan kita juga sadar kalau waktu untuk mendapatkannya selalu terbatas. Yang akan kita lakukan untuk mendapatkan semua itu adalah dengan memilih prioritas.

Memilih prioritas bukan berarti kita mengambil yg satu dan meninggalkan yg lain. Tapi, setelah mendapat yg satu, baru kita akan mengejar yg lain. Dengan demikian kita memiliki fokus dan urutan yang jelas dalam mengalokasi pikiran, tenaga, dan sumber daya yg lain. Bahkan multitasking pada processorpun tidak benar benar melakukannya selama bersama sama, ada urutan yang jelas dalam pengerjaannya, cuman karena urutannya dilakukan dalam waktu yang sangat cepat, kita hampir tidak bisa merasakan perbedaanya.

Kalaupun kita sudah belajar banyak tentang itu, kadang masih saja kita ragu dalam menentukan pilihan, bahkan untuk hal yg sama. Itu terjadi karena ketakutan kita akan 2 konsequensi yang mungkin, yaitu “pilihan yang kita ambil tidak sebaik yang kita bayangkan” atau “pilihan yang kita tinggalkan jauh lebih baik dari yang kita kira”. Disinilah karena ketakutannya, manusia selalu membutuhkan sosok absolut yang memiliki kekuasaan tak terbatas, yaitu Tuhan. Untuk itulah kita selalu dianjurkan untuk selalu meminta petunjuk kepada-Nya untuk memperoleh ketentraman hati dan hilangnya kebimbangan. Kita mengenalnya dalam agama Islam dengan Sholat Istikharah.

Intinya, banyak pekerjaan dan tanggung jawab, bukanlah sesuatu yang harus kita keluhkan, karna semua orang dari semua usia sebenernya juga mengalaminya, cuman kalau tingkat pekerjaan dan tanggung jawab kita yang besar, justru itu yang harus kita syukuri. Karna ketika Tuhan membagi rizqi-Nya lewat mikail kepada manusia itu bukan berupa kemudahan ataukenyamanan, tapi berupa tanggung jawab. Tinggal kita membuat keputusan, mana yang akan kita kerjakan terlebih dahulu dan mana yang kita inginkan terlebih dahulu.

Itu sekedar renungan gue tentang sebuah prioritas, semoga kita termasuk orang-orang yang mengunakan waktu kita yang singkat ini dengan tepat. :))