/ Essai

Esensi Hidup, dalam Siklus Hutang

Ngomongin tentang hutang memang langsung terdengar nggak enak. Setidaknya saya sendiri merasa demikian. Karna ini artinya kita punya beban dan tangungan yang banyak, kita punya keinginan keinginan yang belum mampu kita penuhi, dan sebagainya yang intinya, kita punya masalah yang semakin banyak. Dan dengan hutang, masalah tersebut bisa menjadi lebih ringan atau harapan akan kehidupan yang lebih baik dapat terlihat, setidaknya untuk saat ini. Sehingga dengan demikian beberapa orang mungkin langsung berpikir bahwa hutang adalah solusi. Saya tidak akan bilang bahwa itu salah, tidak ada larangan sama sekali soal ini. Dalam common law pun demikian, semua sah-sah saja, tentu saja asalkan ada asas trust (kepercayaan) dan prudence (kehati-hatian), yang memastikan "keamanan" kedua belah pihak.

Haya saja, tulisan ini bukan ingin membahas tentang proses dan sistem perhutangan tersebut. Bukan juga membahas tentang boleh dan tidak bolehnya, tidak juga saya ingin ikutan nge-hits, sebagaimana sedang ramainya orang-orang ngomongin riba ini, riba itu. Sama sekali bukan soal itu. Lebih karena saya merasa belum paham benar dan qualified untuk ngomongin itu. Tapi yang jelas, dengan tidak terelakkannya siklus hutang dalam perkembangan kebudayaan masyarakat dunia, saya rasa kita semua sepakat bahwa, apapun hutangnya, seberapa besar dan kepada siapapun, kita harus membayarnya, iya kan?

Karna siklus hutang yang tidak terelakkan tadi, dan kewajiban bahwa setiap hutang harus dibayar sehingga akan ada hukuman atas wanprestrasi tersebut, kemudian pertanyaan yang muncul dibenak saya adalah, sudahkah kita membayar semua hutang kita? apakah siklus itu akan terus berlanjut, dan sampai kapan? Untuk menjawab pertanyaan ini saya kemudian membagi hutang menjadi tiga.

Janji

Janji adalah? Sejak kecil kita sering mendengar pertanyaan berikut, dan akan langsung menjawabnya dengan cepat, hutaaaang. Ketika berjanji, kita pasti sudah sadar bahwa kita akan ditagih atas janji tersebut. Terdengar sepele memang, tapi sebenarnya hal ini menimbulkan kewajiban yang berlanjut, dan wanprestasi akan kelalaian terhadapnya pun akan mendapat hukuman. Bergantung kepada siapa kita berjanji, atau mungkin lebih tepat jika saya bilang bergantung kepada kemurahan hati dan toleransinya terhadap janji kita.

Kita membuat janji karena ingin mendapatkan sesuatu di awal, yaitu kesempatan dan kepercayaan. Jika saya ingat-ingat lagi, mungkin kita hidup di dunia, tidak dapat terelakkan dari janji-janji, janji menjadi anak yang baik, janji menjadi murid yang baik, janji untuk saling menyayangi, janji setia kepada pasangan, kepada negara, janji melakukan yang terbaik untuk perusahaan, janji kampanye, janji jawabatan, janji melakukan sesuatu untuk orang lain, dan lain sebagainya. Bahkan dari yang saya pelajari dari kecil, saat di kandungan kita membuat janji dengan Tuhan untuk selalu beribadah, dan sebagai imbalannya adalah kesempatan untuk hidup di dunia ini. Jadi sebenernya hidup kita sekarang ini ya cuma untuk membayar janji-janji kita saja kan?

Kemudahan

Ada saatnya, kita pasti mengalami kesulitan dalam hidup, dan kebaikan orang lainlah yang membuatnya menjadi mudah. Sebagai contoh, kita lupa bawa uang waktu makan di warung, kemudian seorang teman bilang, "saya bayarin dulu aja". Atau saat motor mogok malam-malam, kemudian kita menghubungi teman dan dia datang, Atau saat mengalami masalah finansial yang mendesak, kemudian seseorang memberi pinjaman, dan lain sebagainya, yang saya rasa, kita tidak dapat terelakkan dengan hal itu dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dari sini, sebenarnya ada dua hal yang harus kita bayar. Pertama materi, jumlah uang yang kita pinjam, atau ukuran materi dari bantuan yang kita dapat. Kedua adalah kebaikannya, atau orang-orang biasa bilang dengan "hutang budi". Maka dengan demikian, membayarnya merupakan bentuk raya syukur atas kemudahan yang kita dapat, terlepas dari apakah dia melakukannya dengan ikhlas dan sukarela, atau tidak. Jika kita mendapat kemudahan, sudah seharusnya kita juga memberi kemudahan untuk orang lain. Karena seperti yang saya pelajari dari kecil jika kita bersyukur, akan bertambah kemudahan, sebaliknya, tunggu saja kesulitan kesulitan yang lebih besar.

Kesalahan

Ini juga tidak terelakkan, semua orang melakukan kesalahan, kita tentu tau konsekuensi dari setiap kesalahan yang kita lakukan, yang suatu saat harus kita bayar. Berita baiknya, tidak semua hukuman dan akibat dari kesalahan kita langsung kita tanggung saat itu juga. Kadang, ada waktu "jatuh tempo"-nya, atau tenggat waktu dimana kita diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan kesalahan kita.

Karena ada "kemudahan" berupa tenggat waktu tadi, tentu inipun menjadi hutang yang lain. Yang artinya, selain memperbaiki kesalahan, kita dituntut untuk menjadi lebih dan lebih baik lagi. Maka, kesalahan tentu harus dibayar, dengan memberbaikinya dan menjadi lebih baik, sebelum mendapat hukuman, atau kita tunggu saja hukuman yang datang, yang tentu saja semakin lama ditunda, hukuman bisa jadi akan lebih besar.


Ketika membagi hutang tadi, saya pun seperti teringat akan hutang-hutang saya yang banyak sekali, janji-janji yang sudah saya buat, kemudahan-kemudahan yang dapat, dan kesalahan-kesalahan yang saya lakukan. Terlebih dalam satu siklus, seringkali secara tidak sadar kita melakukan ketiga hutang itu sekaligus. Kita mengalami kesulitan dan meminta kemudahan dari orang, kita janji akan membayarnya segera, kemudian kita menunda nunda membayarnya. Inilah yang menurut saya biasanya membuat beban hidup kita lebih dan semakin besar.

Mungkin esensi kehidupan manusia memang untuk membayar hutang-hutangnya. Entahlah.