/ Technical

Designing Software [2] - Be Realistic

Pada tulisan sebelumnya saya membahas tentang pentingnya peran designer dalam software developement dan agar pengembangan software berjalan dengan baik, perlu adanya komunikasi yg bagus, kolaborasi serta kesadaran masing masing untuk belajar disiplin ilmu yang berbeda. Dengan demikian masalah-masalah perbedaan background pengetahuan yang dimiliki designer mau programmer dapat bersinergi dengan baik, sehingga selalu ada alternatif yang lebih realistis terhadap kemungkinan kemungkinan yang terjadi.

Nah, disini saya akan membahas maksud dari realistis itu sendiri, apakah designer tidak boleh memaksakan hasil implementasi harus sesuai dengan dengan desain? ataukah harus menanggalkan prinsip-prinsip dalam ilmu desainnya agar mempercepat proses development ?

Jadi, Realistis disini erat kaitannya dengan egoisme, menurut saya, ada 3 tingkatan realistis,

Realistis Idealis

Menurut saya, buat designer egois itu penting. Dia harus bisa mempertahankan idealismenya, atau lebih tepatnya dia harus punya standar yang tinggi tentang kualitas desain yang dibuat. Dan ketika muncul pertanyaan, dia dapat mempertahankan secara realistis bahwa konsep yang dia buat realistis, memiliki dasar yg kuat, identitasnya dapat dipertahankan, dan tentu saja dapat dilakukan.

Yang harus dilakukan untuk mencapai standar kualitas desain yang tinggi dan realistis, desainer harus paham benar tentang karakteristik dari setiap platform yang didesain, aturan aturan yang berlaku didalamnya, serta inovasi desain yang berkembang diluar (do researches), sehingga idealisme seorang designer akan menjadi lebih realistis.

Realistis Teknis

Setelah designer membuat konsep keren yang (menurutnya) sudah realistis, kemudian konsultasikan dengan tim teknis. apakah ada part yang missing atau tidak, sejauh mana tingkat keberhasilan implementasinya dan membutuhkan waktu berapa lama.

kadang, karena penguasaan teknis yang berbeda beda dari masing orang dalam team, dan mungkin kemampuan teknis dengan team teknis diluar yang digunakan sebagai acuan desain. tim tidak dapat mengimplimentasikannya dengan cepat atau bahkan hal tersebut tidak mungkin dilakukan oleh kondisi team yang ada sekarang. sehingga dari sini, desainer dapat membuat alternatif lain yang lebih realistis dari sisi teknis.

Realistis Bisnis

ketika desain secara idealis egois sudah realistis, dan realistis pula dari sisi teknis. maka hal terahir yang perlu dilakukan adalah datang ke tim bisnis, apakah desain yang diajukan layak untuk dilakukan dengan effort sekian atau tidak. apakah sudah sesuai dengan pasar atau belum. apakah serangkaian kegiatan edukasi dan marketing yang dilakukan dapat sejalan dengan konsep desain yang ada. dan hal-hal lain dari sisi bisnis. dari desainer juga akan tau perlu alternatif lain atau tidak. kalau konsep (desain) yang dibawa sudah berupa beberapa alternatif, mana yang harus dipilih, desain keren dengan waktu lama atau desain sederhana tapi dapat diimplementasi oleh team. hal hal seperti ini harus dikonsultasikan dengan orang bisnis, karena tentu saja akan berhubungan dengan cost produksi, strategi bisnis, dan projection impact yang diharapkan. kalau di gdilab, ya bisa dari CEO, business development, maupun team marketing.

ketika hal-hal tersebut sudah dilakukan, maka sudah bisa dianggap bahwa desain tersebut adalah realistis.

 

Tulisan ini adalah hasil dari open sharing and discussion di gdilab oleh @irfanzfirdaus tentang “Pixel Perfect”, sampai jumpa di tulisan berikutnya. :))