/ Essai

Masa Depan, dalam Budaya Kampung

Di Indonesia, lebaran memiliki arti yang sangat penting. Bukan hanya untuk mengeluarkan ekpresi kebahagiaan karena "berhasil" menjalanan kewajiban berpuasa bagi umat Islam, semua orang pun turut menikmatinya dalam berbagai cara.

Menjelang lebaran semua orang mendadak ingat kampung, dan berbondong-bondong untuk "pulang". Sedangkan bagi orang kota, suasana sepi saat mudik ini pun menjadi hadiah tersendiri di tengah kejenuhan mereka dengan penuh sesaknya kehidupan di kota. Bahkan, ada beberapa teman di Jakarta yang aktif di komunitas fotografi mengabadikan sepinya Jakarta sebagai momen untuk "menikmati" kota, yang hanya terjadi setahun sekali.

Budaya lebaran yang sejatinya hanya terjadi di kampung-kampung jaman dulu, telah menjadi pesta bagi semua orang. Saat lebaran, semua orang bahagia, tak terdengar lagi obrolan sok tau tentang politik, tak terdengar teriakan kafir sana kafir sini, tak ada bom bunuh diri, tak ada yang merasa paling benar, bahkan jika saat itu ada (yang benar-benar) pencuri tertangkap, saya yakin tidak akan ada orang yang sibuk cari bensin dan membakarnya hidup-hidup.

Karena saat itu, ketika berhadapan dengan yang lain, semua saling merasa memiliki kesalahan, semua orang saling minta maaf, semua orang berusaha memberi suguhan terbaik yang mereka miliki. Di situlah saya melihat bahwa semua orang bahagia, semua orang berusaha membuat orang lain bahagia, atau setidaknya menunjukkan ke orang lain bahwa ia bahagia.

Karena lebaran adalah momen kebahagiaan, kita biasanya akan sibuk mempersiapkannya. Mungkin ini juga satu-satunya pesta rakyat terbesar di dunia. Sehingga saat itulah ada lonjakan perubahan ekonomi yang signifikan di berbagai industri, dari transportasi, pekerjaan umum, properti, retail, perbankan, wisata, hiburan, semuanya.

Hanya gara-gara budaya kampung.

Dan itu baru satu, lebaran. Dimana kita diajarkan untuk mau mengakui kesalahan, saling memaafkan, menjaga hubungan baik, saling berkunjung ke rumah tetangga, saudara-saudara, guru-guru, kyai-kyai, maupun ke "rumah" mereka yang sudah meninggal di sarean. Dimana kita bisa mendengarkan cerita tentang leluhur kita, dan perjuangan mereka untuk masyarakat.

Selain lebaran, budaya kampung juga selalu mengajarkankan kita pentingnya memberikan kontribusi pada masyarakat, seperti kerja bakti, membersihkan maupun memperbaiki fasilitas umum bersama-sama. Ketika ada tetangga yang memiliki hajatan kita akan sambatan, membantu persiapan acara tersebut secara suka rela. Di kampung pula, kita memiliki tetangga yang dengan suka rela menyumbang tenaga membantu pembangunan rumah kita. Tahlilan, nyadran, mengajarkan kita pentingnya "balas budi", bahkan kepada orang yang sudah meninggal.

Lebaran kemaren, saya sowan ke tempat kyai saya di kampung, tempat saya dulu ngaji diniyah sore waktu TK dan SD. Karna saya dateng sore setelah ashar, saya melihat anak-anak kecil mengaji ramai ramai. Mengingatkan saya tentang masa kecil di "sekolah" sore tersebut. Selain belajar alif-ba-ta, disana pula saya belajar kerja bakti, mendapatkan contoh bagaimana beretika, bagaimana menghormati guru layaknya menghormati orang tua, bagaimana kesederhanaan kyai-kyai, serta konsistensi mereka dalam berkontribusi untuk masyarakat.

Menurut saya, begitulah pendidikan seharusnya, bukan hanya tentang teori dan materi, tapi juga tentang budaya dan keikhlasan dalam prosesnya. Oleh karena itu, memaksakan sistem pendidikan kota yang berorientasi pada industri, ke kampung yang sarat akan substansi dan budaya, menurut saya sangat berpotensi mengurangi nilai-nilai humanisme, toleransi, kesederhanaan, konsistensi, dan kepedulian sosial yang justru sangat kita butuhkan saat ini. Seperti wacana full day school yang kata beberapa teman, banyak terjadi pemaksaan dalam pelaksanaannya di kampung-kampung.

Mbah Nun (Emha Ainun Nadjib), dalam bukunya yang berjudul Indonesia Bagian dari Desa Saya, pun memberikan banyak sindiran tentang "zaman yang semakin edan" ini akibat dari bergesernya budaya kampung. Karena budaya kampung inilah, yang sejatinya merupakan budaya Indonesia. Ketika kota dituntut untuk mengejar ketertinggalan industri dengan negara lain. Dan banyak terjadi pembenaran atas kegilaan-kegilaan yang terjadi disana. Kampung adalah penyeimbang, identitas dan jati diri bangsa kita yang sebenarnya. Bukti bahwa kita masih memiliki keharmonisan dalam masyarakat. Untuk itu budaya kampung harus kita jaga, bahkan kita perkuat.

Semoga anak cucu kita nanti masih bisa menikmati tape, apem, jenang, wajik, gemblong, satru, ampyang, rengginang, ceriping, keripik, widaran, unthuk cacing, kuping gajah, nogosari, cucur, cenil, clorot, awug awug dan jajanan kampung lain. Masih bisa mendengar cerita tentang filosofi jajanan kampung tersebut dari kita ketika lebaran.

Saya yakin kita semua tak ingin kehilangan tempat "pulang".